Tampilkan postingan dengan label Laporan paktikum organik: sifat-sifat alkohol. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Laporan paktikum organik: sifat-sifat alkohol. Tampilkan semua postingan

Kamis, 01 Juni 2017

LAPORAN PRAKTIKUM ORGANIK : Sifat-sifat Alkohol


 LAPORAN PRAKTIKUM ORGANIK - sifat-sifat alkohol




PENDIDIKAN KIMIA 
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS KATOLIK WIDYA MANDIRA
KUPANG

1.         Judul Praktikum
               Judul dari praktikum ini adalah “Sifat-Sifat Alkohol”.

2.      Tujuan Praktikum
Ada pun tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengetahui beberapa sifat fisika dan kimia dari beberapa alkohol.

3.     Dasar Teori
Alkohol merupakan senyawa yang memiliki gugus fugsional –OH yang terikat pada rantai karbon alifatik. Dalam molekul alkohol gugus fungsi –OH berikatan secara kovalen dengan atom karbon. Alkohol yang memiliki satu gugus –OH disebut dengan monoalkohol, sedangkan yang memiliki lebih dari satu gugus –OH disebut dengan polialkohol. Alkohol merupakan monoalkohol turunan alkana. Rumus umum dari alkohol adalah CnH2n + 1OH atau ditulis R-OH, satu atom H dari alkana diganti oleh gugus OH.
Alkohol merupakan zat yang memiliki titik didih relatif tinggi dibandingkan dengan senyawa hidrokarbon yang jumlah atom karbonnya sama. Hal ini disebabkan oleh adanya gaya antarmolekul dan adanya ikatan hidrogen antarmolekul alkohol akibat gugus hidroksi yang polar.
Sifat fisika suatu senyawa yaitu sifat yang dimiliki oleh senyawa dimana ketika senyawa tersebut mengalami perubahan tidak bersamaan dengan perubahan unsur-unsur penyusun dari senyawa tersebut.
Sifat fisika alkohol antara lain sebagai berikut :
a.          Alkohol memiliki sifat yang mudah terbakar
b.      Alkohol memiliki sifat yang mudah tercampur, terlarut dengan air, kelarutan ini disebabkan  oleh adanya kemiripan struktur antara alkohol dan air
c.       Alkohol dengan jumlah atom karbon sebanyak 1-4 berupa berupa gas atau cair. Alkohol dengan jumlah atom 5 sampai sembilan berupa cairan kental seperti minyak, sedangkan yang memiliki atom sepuluh atau lebih berupa zat padat.
d.      Alkohol bersifat heteropolar. Memiliki sifat polar dari gugus –OH dan non polar dari gugus alkil. Sifat polarnya tergantung dari panjang rantai alkilnya. Semakin panjang rantai alkilnya, maka sifat kepolarannya berkurang. Hal ini menyebabkan berkurangnya sifat kelarutannya. Alkohol dengan suku rendah seperti metanol dan etanol lebih mudah larut dalm pelarut-pelarut yang polar seperti air.
e.       Titik didih alkohol lebih tinggi dari pada titik didih alkana. Hal ini disebabkan oleh gugus fungsi –OH yang sangat polar sehingga gaya tarik menarik antar molekul alkohol menjadi sangat kuat dari pada titik didih alkil halida atau eter, yang bobot molekulnya sebanding.
Sifat kimia alkohol yaitu sifat yang dalam perubahannya melibatkan reaksi-reaksi kimia atau perubahan dari struktur unsur-unsur penyusunnya.
1.    Dehidrasi alkohol
Dehidrasi yaitu suatu peristiwa reaksi yang melibatkan terlepasnya ion H+ dan OH- (pelepasan air). Ketika campuran suatu senyawa alkohol dengan senyawa lain dipanaskan hingga suhunya mencapai 180áµ’C, maka gugus hidroksil akan terlepas dan atom hidrogen terluarnya akan terlepas membentuk H2O.
2.    Oksidasi alkohol
     Beberapa oksidasi dari alkohol antara lain:
a)    Oksidasi menjadi aldehid
Hasil oksidasi mula-mula dari alkohol primer adalah suatu aldehid (RCH=O). Aldehid, siap dioksidasi menjadi asam karboksilat. Oleh sebab itu, reaksi antara alkohol primer dengan zat oksidator kuat akan menghasilkan asam karboksilat, dan bukan intermediet aldehid. Pereaksi tertentu harus   dipakai apabila intermediet aldehid merupakan hasil yang diinginkan.
b)   Oksidasi menjadi keton.
Suatu alkohol sekunder dioksidasi oleh oksidator yang reaktif kuat menjadi keton.
c)    Oksidasi menjadi asam karboksilat.
Suatu oksidator kuat yang umum dapat mengoksidasi alkohol primer menjadi asam karboksilat.
Oksidator umum :
1)                   Larutan panas KMnO4 + OH-
2)                   Larutan panas CrO3 + H2SO4 (pereaksi Jones).
Reaksi umum untuk oksidasi alkohol dapat dideskripsikan sebgai berikut  :
4.    Alat dan Bahan
4.1   Alat
·         Pipet tetes
·         Kaca arloji
·         Tabung reaksi
·         Kaki tiga
·         Kawat asbes
·         Lampu spritus
·         Gelas kimia
4.2  Bahan
·         Alkohol 70%
·         Metanol
·         Gliserol
·         Aseton
·         CH3COOH
·         H2SO4 pekat
·         Air
·         K2Cr2O7
·         Larutan KI
·         NaOH

5.    Prosedur  kerja
Ø  Sifat fisika
·      Meneteskan 3 tetes di atas kaca arloji dan catat sifat – sifat fisika ,warna, volatalitas dan
Bau dari alkohol – alkohol tersebut.
·      Kelarutan dalam air : meneteskan 5 tetes alkohol ke dalam tabung reaksi sedang yang sudah berisi dengan 1 ml aseton. Kocok dan catat kelarutan.
Ø Esterifikasi
Mengukur 2 ml etanol absolut ( 100 % ).Menambahkan 10 tetes asam asetat glacial dan 5 tetes H2SO4 pekat.Panaskan dalam air penangas .Menuangkan campuran kedalam gelas kimia yang berisi dengan 25 ml air. Catat bau gas yang dihasilkan.
Ø Oksidasi
·      Mengambil 2 ml etenol 100% dan menambahkan 5 tetes H2SO4 pekat dan 1 sendok  kecil K2Cr2O7  panaskan dalam air penangas sampai mendidih.Mencium gas yang terbentuk.
·      Meneteskan metanol kedalam lubang plat tetes membuat spiral dari kawat Cu sepanjang 10 cm .memanaskan kawat sampai berpijar dan celupkan ke dalam metanol .       
Mencium bau gas yang terbentuk.

Ø Reaksi haloform
Memasukan ke dalam tabung sedang 2 ml larutan yodium ( dalam KI ) Menambahkan 5 tetes etanol kemudian teteskan 2 M NaOH sambil di kocok . menambahkan NaOH sampai warna coklat hilang . Kocok terus sampai timbul kristas iodoform .Mengulangi percobaan ini dengan metanol , butanol -1 , dan butanol-2.

6.    Data pengamatan
6.1  Sifat Fisika
·         Roman Zat
No
Langkah Kerja
Data Pengamatan
Reaksi-reaksi
Senyawa
Warna
  Viskositas (Kekentalan)
Volalitas
(Penguapan)

Aroma

1.
Meneteskan masing-masing 3 tetes alkohol-alkohol di atas pada kaca arloji dan mencatat sifat-sifat fisika : warna, volalitas, bau dan sifat-sifat lainnya
Metanol (CH3OH)





Gliserol
(C3H8O3)



Alkohol 70 %
Bening





Bening





Bening
Tidak Kental





Kental





Tidak Kental
Cepat Menguap tanpa pemanasan


Menguap lebih lambat dari metanol




Menguap dengan pemanasan
Bau menyengat




Bau menyengat





Berbau menyengat



·         Kelarutan dalam air dan aseton
No
Senyawa
Pelarut
Air
Aseton
1
Metanol
Larut
Larut
2
Gliserol / Gliserin
Sukar Larut
Larut
3
Alkohol 70%
Larut
Larut



6.2  Sifat Kimia
No
Langkah kerja
Data pengamatan
Reaksi-reaksi
1.
Esterifikasi
a.      Mengukur 10 tetes metanol kedalam tabung reaksi. Kemudian  Menambahkan 10 tetes asam asetat glacial.
Metanol tidak berwarna (bening)
Terdapat gelembung gas yang beraroma CH3COOH serta filtratnya bening keruh

CH3OH (aq) + CH3COOH (aq)    (CH3)2COO  (aq) +  H2O(aq)

b.      Menambahkan 5 tetes H2SO4 pekat.
H2SO4 tdak berwarna (bening). Tidak terjadi perubahan warna pada larutan


c.    Memanaskan dalam penangas air. Menuangkan campuran ke dalam gelas kimia yang sudah diisi dengan 25 ml air (untuk menghilangkan bau dari asam asetat), mencatat bau gas yang dihasilkan.
Terdapat gelembung gas dan beraroma cuka

2.
Oksidasi 1
a.    Mengambil 10 tetes metanol dan menambahkan 5 tetes H2SO4 pekat
Metanol tidak berwarna (bening) direaksikan dengan H2SO4 (bening) tidak terjadi perubahan warna.
CH3OH (aq) +  K2Cr2O7(aq)    HOCHO  (aq) + K2Cr2O7(aq) H2O(aq)

b.   Menambahkan 1 sendok K2CrO7 pada langkah pertama. Kemudian memanaskan dalam penangas sampai mendidih. mencium gas yang terbentuk.
 Terjadi perubahan warna pada larutan menjadi hijau tua dan dengan aroma yang menyengat (asam karboksilat).


Oksidasi 2
a.       Meneteskan metanol kedalam pelat tetes
b.      Membuat spiral pada kawat Cu 10 cm.
c.       Memanaskan kawat Cu dan  kemudian dimasukan kedalam metanol

Metanol tidak berwarna







Mengahasilkan bau menyengat
Cu (s)+ ½  O2 (g) → CuO (s)
H3C-OH(aq) + O2 (aq) → H2CO (aq) + H2O (aq)

3.
Reaksi haloform (tes iodoform)
a.       Memasukkan ke dalam tabung reaksi 10 tetes larutan KI. Kemudian menuangkan 5 tetes metanol
I2 berwarna cokelat.
Tidak terjadi perubahan warna setelah di reaksikan dengan  metanol
I2(aq) + CH3OH ­(aq) + NaOH (aq) → NaI + CH3OI (aq) + H2O (aq)

b.      Menambahkan NaOH sampai warna cokelat menghilang.
Perubahan warna menjadi bening dan ada bau.

c.       Mengocok terus sampai timbul kristal iodoform (warna kuning) atau tercium bau iodoform.
Timbulnya bau menyengat yang di duga bau iodoform





7.      Analisis Data
·         Sifat Fisika
·         Roman Zat
Warna
a)    Metanol (CH3OH)
    Tidak berwarna (bening).
b)   Gliserin (C2H5OH)
    Tidak berwarna (bening).
c)    Alkohol 70 %
    Tidak berwarna (bening), 
Kekentalan (Viskositas)
a.       Metanol (CH3OH)
Teksturnya tidak kental.
b.      Gliserin (C3H8O3)
Teksturnya Kental,  berbau, dan menguap.
c.       Alkohol 70 %
         Teksturya tidak kental  dan berbau.
Volalitas
Metanol mudah menguap pada suhu kamar tanpa pemanasan, gliserin menguap agak lambat dari metanol dan air menguap lambat dan membutuhkan pemanasan. Faktor yang mempengaruhi titik didih yakni, berat molekul, adanya zat terlarut, dan ikatan yang dibentuk antar molekul. Berat molekul berbanding lurus dengan kenaikan titik didih suatu larutan, semakin besar berat molekul menandakan bahwa banyaknya molekul dalam larutan tersebut, sehingga pergerakan molekul semakin sulit dan membuat ikatan yang dibentuk pun susah putus. Adanya zat terlarut masih berkaitan dengan penambahan berat molekul. Jenis ikatan juga turut mempengaruhi titik didih suatu larutan. Larutan yang molekul-molekulnya diikat ionik atau kovalen yang bersifat kuat maka diperlukan waktu untuk memutuskannya.
·         Kelarutan dalam Alkohol dan dan Aseton
Kelarutan Alkohol Dalam Air
Metanol
Persamaan reaksi lengkap :
CH3OH(aq)  CH3OH(aq) larut.
Mekanisme Reaksi : 
Penjelasan Mekanisme Reaksi:
·                Pada senyawa metanol diatas adanya tolakan proton pada atom H menimbulkan gaya Coulomb, sehingga elektron ikatan pada atom C menjadi tidak stabil di dukung lagi dengan  perbedaan keelektronegatifan antara atom C dengan O, dimana O lebih elektronegatif dari C sehingga elektron ikatan antara atom C dengan O  cenderung ke atom O menyebabkan atom O menjadi parsial negatif (Oδ-) dan atom C menjadi parsial positif (Cδ+). Begitu pula antara atom O dengan H akibat adanya perbedaan keelektonegatifan antara atom O dengan H dimana atom O lebih elektronegatif dari H  menyebabkan elektron ikatan antara atom O dengan H cendrung ke atom O sehingga  atom O menjadi parsial negatif (Oδ-) dan atom H menjadi parsial positif (Hδ+)
·                      Pada molekul air (H­2O)  dengan adanya  perbedaan keelektronegatifan antara atom H dengan O, dimana O lebih elektronegatif dari H sehingga elektron ikatan antara atom H dengan O  cenderung ke atom O menyebabkan atom O menjadi parsial negatif (Oδ-) dan atom H menjadi parsial positif (Hδ+).
·                        Selanjutnya, metanol larut dalam air dengan membentuk ikatan Hidrogen yang terbentuk dari atom H pada senyawa metanol dan atom O pada molekul air ; dimana atom O dan H adanya perbedaan dipol  sehingga membentuk ikatan sementara. Metanol dapat larut karena berat molekulnya kecil dan hambatan efek sterik yang relatif kecil meskipun metanol bersifat nonpolar. 

Gliserin/Gliserol

Persamaan Reaksi :
C3H8O3(aq)  C3H8O3 (aq) Sukar  larut.
 
Penjelasan mekanisme reaksi :
·                 Pada senyawa propane-1,2,3-triol diatas adanya tolakan proton pada atom H menimbulkan gaya coulomb, sehingga elektron ikatan pada atom C menjadi tidak stabil di dukung lagi dengan  perbedaan keelektronegatifan antara atom C dengan O, dimana O lebih elektronegatif dari C sehingga elektron ikatan antara atom C dengan O  cenderung ke atom O menyebabkan atom O menjadi parsial negatif (Oδ-) dan atom C menjadi parsial positif (Cδ+). Begitu pula antara atom O dengan H akibat adanya perbedaan keelektonegatifan antara atom O dengan H dimana atom O lebih elektronegatif dari H  menyebabkan elektron ikatan antara atom O dengan H cendrung ke atom O sehingga  atom O menjadi parsial negatif (Oδ-) dan atom H menjadi parsial positif (Hδ+)
·                   Pada molekul air (H­2O)  dengan adanya  perbedaan keelektronegatifan antara atom H dengan O, dimana O lebih elektronegatif dari H sehingga elektron ikatan antara atom H dengan O  cenderung ke atom O menyebabkan atom O menjadi parsial negatif (Oδ-) dan atom H menjadi parsial positif (Hδ+).
·                       Selanjutnya, propane-1,2,3-triol  sukar larut dalam air karena sukar  membentuk ikatan hidrogen dengan molekul air karena adanya kompetisi antara ikatan hidrogen dengan hambatan efek sterik. Hambatan efek  steriknya yang relatif lebih besar menyebabkan senyawa propane-1,2,3-triol  tidak dapat membentuk ikatan hidrogen. Selain itu faktor kepolaran dari senyawa gliserol ini yang menyebabkan gliserol sukar larut dalam air karena gliserol bersifat non polar dan air bersifat polar.  Oleh karena itu, senyawa propane-1,2,3-triol  sukar larut dalam air.

Alkohol 70 % (R-OH)
Persamaan Reaksi :
R-OH(aq)  R-OH (aq)   larut.

Mekanisme Reaksi :

                                         
        
Penjelasan mekanisme  reaksi :
·                   Ditinjau pada senyawa alkohol diatas, adanya tolakan proton pada atom H menimbulkan gaya Coulomb, sehingga elektron ikatan pada atom C menjadi tidak stabil di dukung lagi dengan  perbedaan keelektronegatifan antara atom C dengan O, dimana O lebih elektronegatif dari C sehingga elektron ikatan antara atom C dengan O  cenderung ke atom O menyebabkan atom O menjadi parsial negatif (Oδ-) dan atom C menjadi parsial positif (Cδ+). Begitu pula antara atom O dengan H akibat adanya perbedaan keelektonegatifan antara atom O dengan H dimana atom O lebih elektronegatif dari H  menyebabkan elektron ikatan antara atom O dengan H cendrung ke atom O sehingga  atom O menjadi parsial negatif (Oδ-) dan atom H menjadi parsial positif (Hδ+)
·                   Pada molekul air , dipengaruhi oleh beda keelektronegatifan antara atom O dengan H, dimana keelektronegatifan O lebih besar daripada  atom H sehingga elektron ikatan antara atom O dengan H cenderung ke O atom O menjadi parsial negatif (Oδ-) dan atom H menjadi parsial positif (Hδ+)
·                   Selanjutnya, alkohol larut dalam air dengan membentuk ikatan Hidrogen yang terbentuk dari atom H pada senyawa alkohol dan atom O pada molekul air ; dimana atom O dan H adanya perbedaan dipol  sehingga membentuk ikatan sementara. alkohol dapat larut karena berat molekulnya kecil dan hambatan efek sterik yang relatif kecil walaupun alkhol bersifat non polar. 

Kelarutan Alkohol Dalam Aseton
Metanol
Persamaan Reaksi :

CH3OH(aq)  CH3OH(aq) larut.

Mekanisme Reaksi :
 
Penjelasan mekanisme reaksi :
·                  Pada senyawa metanol diatas adanya tolakan proton pada atom H menimbulkan gaya Coulomb, sehingga elektron ikatan pada atom C menjadi tidak stabil di dukung lagi dengan  perbedaan keelektronegatifan antara atom C dengan O, dimana O lebih elektronegatif dari C sehingga elektron ikatan antara atom C dengan O  cenderung ke atom O menyebabkan atom O menjadi parsial negatif (Oδ-) dan atom C menjadi parsial positif (Cδ+). Begitu pula antara atom O dengan H akibat adanya perbedaan keelektonegatifan antara atom O dengan H dimana atom O lebih elektronegatif dari H  menyebabkan elektron ikatan antara atom O dengan H cendrung ke atom O sehingga  atom O menjadi parsial negatif (Oδ-) dan atom H menjadi parsial positif (Hδ+)
·                  Pada senyawa aseton, di pengaruhi oleh gaya Coloumb dari C1 dan C3 terhadap C2 sehingga elektron terakumulasi pada atom  C2 sehingga elektron ikatan antara C2 dengan C3, C1 dengan C2, C2 dengan O tidak stabil, didukung lagi dengan perbedaan keelektronegatifan antara O dan C dimana O lebih elektronegatif dari pada C, sehingga elektron ikatan antara C dengan O cenderung ke O, mengakibatkan O menjadi parsial negatif (δ-) dan atom C menjadi parsial positif (δ+)  .
·                  Selanjutnya, metanol larut dalam aseton dengan membentuk ikatan Hidrogen yang terbentuk dari atom H pada senyawa alkohol dan atom O pada senyawa aseton ; dimana atom O dan H adanya perbedaan dipole akibat perbedaan keelektronegatifan yang besar. Metanol dapat larut karena metanol dan aseton sama sama bersifat   non polar. 

·         Gliserol/Gliserin



Mekanisme Reaksi :

 

Penjelasan Mekanisme Reaksi :

·                 Pada senyawa propane-1,2,3-triol diatas adanya tolakan proton pada atom H menimbulkan gaya coulomb, sehingga elektron ikatan pada atom C menjadi tidak stabil di dukung lagi dengan  perbedaan keelektronegatifan antara atom C dengan O, dimana O lebih elektronegatif dari C sehingga elektron ikatan antara atom C dengan O  cenderung ke atom O menyebabkan atom O menjadi parsial negatif (Oδ-) dan atom C menjadi parsial positif (Cδ+). Begitu pula antara atom O dengan H akibat adanya perbedaan keelektonegatifan antara atom O dengan H dimana atom O lebih elektronegatif dari H  menyebabkan elektron ikatan antara atom O dengan H cendrung ke atom O sehingga  atom O menjadi parsial negatif (Oδ-) dan atom H menjadi parsial positif (Hδ+).
·                  Pada senyawa aseton, di pengaruhi oleh gaya Coloumb dari C1 dan C3 terhadap C2 sehingga elektron terakumulasi pada atom  C2 sehingga elektron ikatan antara C2 dengan C3, C1 dengan C2, C2 dengan O tidak stabil, didukung lagi dengan perbedaan keelektronegatifan antara O dan C dimana O lebih elektronegatif dari pada C, sehingga elektron ikatan antara C dengan O cenderung ke O, mengakibatkan O menjadi parsial negatif (δ-) dan atom C menjadi parsial positif (δ+)  .
·                  Selanjutnya, gliserin larut dalam aseton dengan membentuk ikatan Hidrogen yang terbentuk dari atom H pada senyawa gliserol dan atom O pada senyawa aseton ; dimana atom O dan H adanya perbedaan dipol akibat perbedaan keelektronegatifan yang besar. Selain itu, gliserin/gliserol dapat larut karena gliserol / gliserin dan aseton sama sama bersifat   non polar.

·         Alkohol 70 %

Persamaan Reaksi :
R-OH(aq)  R-OH (aq) larut.

Mekanisme reaksi :
 
Penjelasan Mekanisme Reaksi :
·                   Ditinjau pada senyawa alkohol diatas, adanya tolakan proton pada atom H menimbulkan gaya Coulomb, sehingga elektron ikatan pada atom C menjadi tidak stabil di dukung lagi dengan  perbedaan keelektronegatifan antara atom C dengan O, dimana O lebih elektronegatif dari C sehingga elektron ikatan antara atom C dengan O  cenderung ke atom O menyebabkan atom O menjadi parsial negatif (Oδ-) dan atom C menjadi parsial positif (Cδ+). Begitu pula antara atom O dengan H akibat adanya perbedaan keelektonegatifan antara atom O dengan H dimana atom O lebih elektronegatif dari H  menyebabkan elektron ikatan antara atom O dengan H cendrung ke atom O sehingga  atom O menjadi parsial negatif (Oδ-) dan atom H menjadi parsial positif (Hδ+).
·                  Pada senyawa aseton, di pengaruhi oleh gaya Coloumb dari C1 dan C3 terhadap C2 sehingga elektron terakumulasi pada atom  C2 sehingga elektron ikatan antara C2 dengan C3, C1 dengan C2, C2 dengan O tidak stabil, didukung lagi dengan perbedaan keelektronegatifan antara O dan C dimana O lebih elektronegatif dari pada C, sehingga elektron ikatan antara C dengan O cenderung ke O, mengakibatkan O menjadi parsial negatif (δ-) dan atom C menjadi parsial positif (δ+)  .
·                   Selanjutnya, alkohol larut dalam aseton dengan membentuk ikatan Hidrogen yang terbentuk dari atom H pada senyawa alkohol dan atom O pada senyawa aseton ; dimana atom O dan H adanya perbedaan dipol akibat perbedaan keelektronegatifan yang besar. Selain itu, alkohol dapat larut karena alkohol dan aseton sama sama bersifat   non polar.


·         Sifat Kimia
Esterifikasi
Persamaan Reaksi :
CH3OH (aq) + CH3COOH (aq)    (CH3)2COO  (aq) +  H2O(aq)
Mekanisme Reaksi :
 

Penjelasan mekanisme reaksi :
·                  Pada senyawa metanol diatas adanya tolakan proton pada atom H menimbulkan gaya Coulomb, sehingga elektron ikatan pada atom C menjadi tidak stabil di dukung lagi dengan  perbedaan keelektronegatifan antara atom C dengan O, dimana O lebih elektronegatif dari C sehingga elektron ikatan antara atom C dengan O  cenderung ke atom O menyebabkan atom O menjadi parsial negatif (Oδ-) dan atom C menjadi parsial positif (Cδ+). Begitu pula antara atom O dengan H akibat adanya perbedaan keelektonegatifan antara atom O dengan H dimana atom O lebih elektronegatif dari H  menyebabkan elektron ikatan antara atom O dengan H cendrung ke atom O sehingga  atom O menjadi parsial negatif (Oδ-) dan atom H menjadi parsial positif (Hδ+).
·                  Pada senyawa H2SO4 diatas adanya perbedaan keelektronegatifan antara atom S dengan O, dimana O lebih elektronegatif dari S sehingga elektron ikatan antara atom S dengan O  putus ke atom O menyebabkan atom O menjadi negatif (O-) dan atom S menjadi  positif (S+).
·                 Selanjutnya, atom O- pada senyawa metanol berinteraksi dengan atom S+ dari senyawa H2SO4 menghasilkan senyawa metil sulfonat dan atom O- yang putus dari senyawa H2SO4 akan berinteraksi dengan atom H+ yang putus dari senyawa metanol membentuk molekul air. Hasil reaksi ini direaksikan selanjutnya direaksikan dengan asam asetat.
·                  Pada senyawa metil sulfonat, adanya perbedaan keelektronegatifan atom O dengan S menyebabkan elektron ikatan antara atom O dengan S putus ke ato O sehingga atom O menjadi megatif (O-) dan atom S menjadi positif (S+) . Pada senyawa asam astetat, adanya perbedaan keelektronegatifan antara atom O dengan dengan C menyebabkan elektron ikatan antara atom O dengan C putus ke atom O sehingga atom O menjadi negatif (O-) dan atom C menjadi positif (C+). Selanjutnya atom O yang putus dari senyawa metil sulfonat berinteraksi dengan atom C dari senyawa asam asetat membentuk senyawa metil asetat.




Oksidasi 1

Persamaan Reaksi :

CH3OH (aq) +  K2Cr2O7(aq)    HOCHO  (aq) + K2Cr2O7(aq) H2O(aq)

Mekanisme Reaksi :
                    
Penjelasan mekanisme reaksi :
·                   Pada senyawa metanol diatas adanya tolakan proton pada atom H menimbulkan gaya Coulomb, sehingga elektron ikatan pada atom C menjadi tidak stabil di dukung lagi dengan  perbedaan keelektronegatifan antara atom C dengan O, dimana O lebih elektronegatif dari C sehingga elektron ikatan antara atom C dengan O  cenderung ke atom O menyebabkan atom O menjadi parsial negatif (Oδ-) dan atom C menjadi parsial positif (Cδ+). Begitu pula antara atom O dengan H akibat adanya perbedaan keelektonegatifan antara atom O dengan H dimana atom O lebih elektronegatif dari H  menyebabkan elektron ikatan antara atom O dengan H cendrung ke atom O sehingga  atom O menjadi parsial negatif (Oδ-) dan atom H menjadi parsial positif (Hδ+).
·                Pada senyawa H2SO4 diatas adanya perbedaan keelektronegatifan antara atom H dengan O, dimana O lebih elektronegatif dari H sehingga elektron ikatan antara atom H dengan O  putus ke atom O menyebabkan atom O menjadi negatif (O-) dan atom H menjadi  positif (H+).
·                 Selanjutnya, atom O- pada senyawa metanol berinteraksi dengan atom H+ dari senyawa H2SO4 menghasilkan molekul air.dan hasil sampingnnya ion HSO4- dan H3C-.
·                      Selanjutnya, atom O dari K2Cr2O7 akan mengoksidasi senyawa metanol menghasilkan senyawa keton dan dioksidasi kembali menghasilkan asam karboksilat yaitu asam format.
Oksidasi 2
Persamaan Reaksi :
Cu (s)+ ½  O2 (g) → CuO (s)
H3C-OH(aq) + O2 (aq) → H2CO (aq) + H2O (aq)

Mekanisme Reaksi :
Cu (s)+ ½  O2 (g) → CuO (s)

 
Penjelasan mekanisme reaksi :
·                          Pada senyawa CuO adanya perbedaan keelektronegatifan antara atom Cu dengan O, dimana O lebih elektronegatif dari C sehingga elektron ikatan antara atom Cu dengan O  putus ke atom O menyebabkan atom O menjadi negatif (O-) dan atom C menjadi positif (C+). Hasil reaksi ini selanjutnya direaksikan dengan alkohol.
·                           Pada senyawa alkohol,  adanya perbedaan keelektronegatifan antara atom C dengan O, dimana O lebih elektronegatif dari C sehingga elektron ikatan antara atom C dengan O  putus ke atom O menyebabkan atom O menjadi negatif (O-) dan atom C menjadi positif (C+).
·                       Selanjutnya, atom O dari CuO akan mengoksidasi alkohol membentuk aldehid dan hasil sampingnya logam Cu dan air (H2O).
Reaksi  Haloform (iodoform)
Persamaan reaksi :
I2(aq) + CH3OH ­(aq) + NaOH (aq) → NaI + CH3OI (aq) + H2O (aq)

                                                                                  
Mekanisme reaksi :
Penjelasan mekanisme reaksi :
·                           Pada senyawa metanol,  adanya perbedaan keelektronegatifan antara atom C dengan O, dimana O lebih elektronegatif dari C sehingga elektron ikatan antara atom C dengan O  putus ke atom O menyebabkan atom O menjadi negatif (O-) dan atom C menjadi positif (C+).
·                           Pada senyawa I2,  dengan keelektronegatifan yang sama , sehingga elektron masing-masing dibawa atom I. Namun karena pereaksi putus secara heterolitik menyebabkan I2 juga putus secara heterolitik.
·                           Selanjutnya I+ berinteraksi dengan  O- dari senyawa metanol membentuk metil iodida dan H+ dari metanol berinteraksi dengan I+ membentuk HI. Hasil reaksi ini direaksikan dengan NaOH
·                           Pada senyawa NaOH,  adanya perbedaan keelektronegatifan antara atom Na dengan O, dimana O lebih elektronegatif dari Na sehingga elektron ikatan antara atom Na dengan O  putus ke atom O menyebabkan atom O menjadi negatif (O-) dan atom Na menjadi positif (Na+).
·                              Pada senyawa HI,  adanya perbedaan keelektronegatifan antara atom I dengan H, dimana I lebih elektronegatif dari H sehingga elektron ikatan antara atom I dengan H  putus ke atom I menyebabkan atom I menjadi negatif (I-) dan atom H menjadi positif (H+).
·                             Selanjutnya I-  dari HI berinteraksi dengan  Na+ dari senyawa NaOH membentuk NaI dan H+ dari HI  berinteraksi dengan HO- dari NaOH membentuk molekul air.
8.      Pembahasan
  Alkohol merupakan senyawa yang memiliki gugus fugsional –OH yang terikat pada rantai karbon alifatik. Dalam molekul alkohol gugus fungsi –OH berikatan secara kovalen dengan atom karbon. Alkohol yang memiliki satu gugus –OH disebut dengan monoalkohol, sedangkan yang memiliki lebih dari satu gugus –OH disebut dengan polialkohol. Alkohol merupakan monoalkohol turunan alkana. Rumus umum dari alkohol adalah CnH2n + 1OH atau ditulis R-OH, satu atom H dari alkana diganti oleh gugus OH. Pada percobaan kali ini bertujuan untuk menganalisis sifat-sifat dari beberapa jenis alkohol baik dari sifat fisika maupun sifat kimia. Adapun sifat fisika yang dianalisis disini yaitu  mengamati roman zat, kelarutan dalam pelarut organik (aseton) maupun anorganik (air). Pada percobaan menganalisis sifat fisik dan kimia alkohol ini menggunakan beberapa jenis alkohol yakni alkohol, gliserin dan metanol. Untuk mengamati roman zatnya, ketiga senyawa ini yakni denga mengamati teksturnya, warna dan di panaskan  serta dilarutkan dalam air dan aseton. Hasil yang diperoleh pada percobaan sifat fisik ini antara lain : 
Pada metanol, gliserol dan alkohol, mempunyai kemiripan yaitu tidak berwarna (bening), berbau menyengat dan mudah menguap. Metanol lebih cepat menguap dari pada gliserin dan alkohol hal ini di pengaruhi oleh perbedaan berat molekul dan bentuk molekul atau ikatan antara molekul. Sedangkan alkohol  menguap lambat hal ini dipengaruhi oleh ikatan antar molekul alkohol yang sangat kuat dan membentuk ikatan hidrogen sesama molekul alkohol. Sifat lainnya yakni metanol dan alkohol teksturnya tidak kental sedangkan gliserol teksturnya kental. Metanol dan alkohol 70 % larut dalam air sedangkan gliserin sukar larut dalam air, hal ini dipengaruhi oleh sifat non polar dari gliserin yang tidak mudah larut dalam air, selain itu hambatan efek sterik yang besar dan berat molekul yang besar. Pada alkohol dan metanol meskipun perbedaan sifat  kepolaran , namun hambatan efek steriknya kecil dan berat molekulnya kecil. Metanol, gliserin dan alkohol larut dalam aseton karena adanya kesamaan sifat kepolaran yaitu sama sama bersifat nonpolar.
Untuk mengetahui sifat kimia dari alkohol dilakukan beberapa reaksi antara lain esterifikasi, oksidasi dan pembentukan iodoform. Reaksi-reaksi tersebut dapat di jelaskan sebagai berikut: 
1.   Esterifikasi
                Reaksi esterifikasi merupakan reaksi pembentukan ester dengan reaksi langsung antara suatu asam karboksilat dengan suatu alkohol. Pada percobaan ini ketika CH3OH + H2SO4 + CH3COOH menghasilkan ester dengan nama senyawanya metil asetat dan air sebagai hasil samping dengan  bau yang harum. H2SO4  berperan sebagai katalis sehingga reaksi antara CH3OH dan     CH3COOH akan mencapai kesetimbangan. Bau yang harum ini disebabkan karena ester dari asam karboksilat rendah  dan ester memiliki titik didih rendah, titik beku yang rendah pula dari asam karboksilat penyusunnya. Ester bersuhu rendah berupa zat cair yang berbau harum.
2.      Oksidasi
Oksidasi alkohol mengahasilkan keton atau aldehid atau asam karboksilat. Alkohol primer akan teroksidasi menjadi aldehida dan pada oksidasi lebih lanjut akan menghasilkan asam karboksilat. Alkohol sekunder akan teroksidasi menjadi keton. Sedangkan alkohol tersier tidak dapat teroksidasi karena tidak ada hidrogen yang dilepaskan karbon pembawa gugus hidroksil. Pada percobaan ini ketika metanol direaksikan dengan K2Cr2O7 dalam suasana asam akan menghasilkan asetaldehida dan menghasilkan bau yang harum.
3.      Reaksi kloroform (reaksi iodoform)
Larutan iodin dimasukan kedalam metanol dan sedikit larutan NaOH yang secukupnya dengan tujuan untuk menghilangkan warna iodin yaitu warna coklat. Hasil dari perlakuan ini adalah menghasilkan warna bening yang artinya larutan iodida dengan cepat mereduksi senyawa NaOH yang akan menghasilkan senyawa NaI dan CH3OI dan H2O sebagai hasil samping dan menimbulkan bau yang yang tajam.


9.      Simpulan
Berdasarkan percobaan di atas maka dapat disimpulkan bahwa sifat-sifat fisik dari alkohol yakni mudah menguap, encer, tidak berwarna. Dan sifat kimia dari alkohol meliputi esterifikasi, oksidasi, dan reasi haloform.
10.  Jawaban Pertanyaan
10.1          Pertanyaan : Tuliskan semua reaksi yang terjadi ?
Jawab          :
·         Reaksi kelarutan alkohol dalam air
CH3OH(aq)  CH3OH(aq) larut.
C3H8O3(aq)  C3H8O3 (aq) Sukar  larut.
R-OH(aq)  R-OH (aq)   larut.
·         Reaksi kelarutan alkohol dalam aseton
CH3OH(aq)  CH3OH(aq) larut.
C3H8O3(aq)  C3H8O3 (aq) larut.
R-OH(aq)  R-OH (aq) larut.
·         Reaksi Esterifikasi
CH3OH (aq) + CH3COOH (aq)    (CH3)2COO  (aq) +  H2O(aq)
·         Reaksi Oksidasi
CH3OH (aq) +  K2Cr2O7(aq)    HOCHO  (aq) + K2Cr2O7(aq) H2O(aq)



10.2          Pertanyaan : Berikan definisi dan contoh dari alkohol prier, sekunder, tersier dan polihidroksi alkohol?
Jawab :
·         Alkohol primer yaitu gugus alkohol yang berikatan dengan atom C yang mengikat 1 atom C yang lain :
Contoh :
·         Alkohol sekunder yaitu gugus alkohol yang berikatan dengan atom C yang mengikat 2 atom C yang lain :
Contoh :
·         Alkohol tersier yaitu gugus alkohol yang berikatan dengan atom C yang mengikat 3 atom C yang lain :



Daftar Pustaka

Fessenden dan fessenden.1982.Kimia Organik Edisi Ketiga Jilid 1 Dan 2.Erlangga:Jakarta
Cotton dan wilkinson.1973.Kimia Anorganik Dasar.universitas indonesia press:Jakarta

  #Sumber laporan : Laboran FKIP Kimia UNWIRA

laporan praktikum organik - senayawa Hidrokarbon

Jangan Lupa Saksikan: Ritual Bulan Suci di Pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur <script data-ad-client="ca-pub-5022506125934657" a...