LAPORAN PRAKTIKUM ORGANIK - sifat-sifat alkohol
PENDIDIKAN KIMIA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS KATOLIK WIDYA MANDIRA
KUPANG
1.
Judul
Praktikum
Judul
dari praktikum ini adalah “Sifat-Sifat
Alkohol”.
2.
Tujuan
Praktikum
Ada
pun tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengetahui beberapa sifat fisika dan
kimia dari beberapa alkohol.
3.
Dasar Teori
Alkohol merupakan senyawa yang memiliki gugus fugsional
–OH yang terikat pada rantai karbon alifatik. Dalam molekul alkohol gugus
fungsi –OH berikatan secara kovalen dengan atom karbon. Alkohol yang memiliki satu gugus –OH disebut dengan
monoalkohol, sedangkan yang memiliki lebih dari satu gugus –OH disebut dengan
polialkohol. Alkohol merupakan monoalkohol turunan alkana. Rumus umum dari
alkohol adalah CnH2n + 1OH atau ditulis R-OH, satu atom H dari
alkana diganti oleh gugus OH.
Alkohol merupakan zat yang memiliki titik didih relatif
tinggi dibandingkan dengan senyawa hidrokarbon yang jumlah atom karbonnya sama. Hal ini disebabkan oleh adanya gaya
antarmolekul dan adanya ikatan hidrogen antarmolekul alkohol akibat gugus
hidroksi yang polar.
Sifat fisika suatu senyawa yaitu sifat yang dimiliki oleh
senyawa dimana ketika senyawa tersebut mengalami perubahan tidak bersamaan dengan
perubahan unsur-unsur penyusun dari senyawa tersebut.
Sifat fisika alkohol antara lain sebagai berikut :
a.
Alkohol memiliki
sifat yang mudah terbakar
b.
Alkohol memiliki
sifat yang mudah tercampur, terlarut dengan air, kelarutan ini disebabkan oleh adanya kemiripan struktur antara alkohol
dan air
c.
Alkohol dengan
jumlah atom karbon sebanyak 1-4 berupa berupa gas atau cair. Alkohol dengan
jumlah atom 5 sampai sembilan berupa cairan kental seperti minyak, sedangkan
yang memiliki atom sepuluh atau lebih berupa zat padat.
d.
Alkohol bersifat
heteropolar. Memiliki sifat polar dari gugus –OH dan non polar dari gugus
alkil. Sifat polarnya tergantung dari panjang rantai alkilnya. Semakin panjang
rantai alkilnya, maka sifat kepolarannya berkurang. Hal ini menyebabkan
berkurangnya sifat kelarutannya. Alkohol dengan suku rendah seperti metanol dan
etanol lebih mudah larut dalm pelarut-pelarut yang polar seperti air.
e.
Titik didih alkohol
lebih tinggi dari pada titik didih alkana. Hal ini disebabkan oleh gugus fungsi
–OH yang sangat polar sehingga gaya tarik menarik antar molekul alkohol menjadi
sangat kuat dari pada titik didih alkil halida atau eter,
yang bobot molekulnya sebanding.
Sifat kimia alkohol
yaitu sifat yang dalam perubahannya melibatkan reaksi-reaksi kimia atau
perubahan dari struktur unsur-unsur penyusunnya.
1.
Dehidrasi alkohol
Dehidrasi yaitu suatu peristiwa reaksi yang melibatkan
terlepasnya ion H+ dan OH- (pelepasan air). Ketika
campuran suatu senyawa alkohol dengan senyawa lain dipanaskan hingga suhunya
mencapai 180áµ’C, maka gugus hidroksil akan terlepas dan atom hidrogen terluarnya
akan terlepas membentuk H2O.
2.
Oksidasi alkohol
Beberapa oksidasi dari alkohol antara lain:
a) Oksidasi menjadi aldehid
Hasil oksidasi mula-mula dari
alkohol primer adalah suatu aldehid (RCH=O). Aldehid, siap dioksidasi menjadi
asam karboksilat. Oleh sebab itu, reaksi antara alkohol primer dengan zat
oksidator kuat akan menghasilkan asam karboksilat, dan bukan intermediet
aldehid. Pereaksi tertentu harus dipakai apabila intermediet
aldehid merupakan hasil yang diinginkan.
b) Oksidasi menjadi keton.
Suatu alkohol sekunder dioksidasi
oleh oksidator yang reaktif kuat menjadi keton.
c) Oksidasi menjadi asam karboksilat.
Suatu oksidator kuat yang umum dapat
mengoksidasi alkohol primer menjadi asam karboksilat.
Oksidator umum :
1)
Larutan panas KMnO4 + OH-
2)
Larutan panas CrO3 + H2SO4
(pereaksi Jones).
Reaksi umum untuk oksidasi alkohol dapat dideskripsikan sebgai
berikut :
4.
Alat dan Bahan
4.1
Alat
·
Pipet tetes
·
Kaca arloji
·
Tabung reaksi
·
Kaki tiga
·
Kawat asbes
·
Lampu spritus
·
Gelas kimia
4.2
Bahan
·
Alkohol 70%
·
Metanol
·
Gliserol
·
Aseton
·
CH3COOH
·
H2SO4 pekat
·
Air
·
K2Cr2O7
·
Larutan KI
·
NaOH
5.
Prosedur kerja
Ø Sifat
fisika
·
Meneteskan 3 tetes di
atas kaca arloji dan catat sifat – sifat fisika ,warna, volatalitas dan
Bau dari alkohol
– alkohol tersebut.
·
Kelarutan dalam air :
meneteskan 5 tetes alkohol ke dalam tabung reaksi sedang yang sudah berisi
dengan 1 ml aseton. Kocok dan catat kelarutan.
Ø Esterifikasi
Mengukur 2 ml etanol absolut ( 100 %
).Menambahkan 10 tetes asam asetat glacial dan 5 tetes H2SO4 pekat.Panaskan
dalam air penangas .Menuangkan campuran kedalam gelas kimia yang berisi dengan
25 ml air. Catat bau gas yang dihasilkan.
Ø Oksidasi
·
Mengambil 2 ml etenol
100% dan menambahkan 5 tetes H2SO4 pekat dan 1
sendok kecil K2Cr2O7
panaskan dalam air penangas sampai
mendidih.Mencium gas yang terbentuk.
·
Meneteskan metanol
kedalam lubang plat tetes membuat spiral dari kawat Cu sepanjang 10 cm
.memanaskan kawat sampai berpijar dan celupkan ke dalam metanol .
Mencium bau gas
yang terbentuk.
Ø Reaksi
haloform
Memasukan ke
dalam tabung sedang 2 ml larutan yodium ( dalam KI ) Menambahkan 5 tetes etanol
kemudian teteskan 2 M NaOH sambil di kocok . menambahkan NaOH sampai warna
coklat hilang . Kocok terus sampai timbul kristas iodoform .Mengulangi
percobaan ini dengan metanol , butanol -1 , dan butanol-2.
6.
Data
pengamatan
6.1
Sifat
Fisika
·
Roman Zat
No
|
Langkah Kerja
|
Data Pengamatan
|
Reaksi-reaksi
|
||||
Senyawa
|
Warna
|
Viskositas (Kekentalan)
|
Volalitas
(Penguapan)
|
Aroma
|
|||
1.
|
Meneteskan
masing-masing 3 tetes alkohol-alkohol di atas pada kaca arloji dan mencatat sifat-sifat
fisika : warna, volalitas, bau dan sifat-sifat lainnya
|
Metanol (CH3OH)
Gliserol
(C3H8O3)
Alkohol 70 %
|
Bening
Bening
Bening
|
Tidak Kental
Kental
Tidak Kental
|
Cepat Menguap tanpa pemanasan
Menguap lebih lambat dari metanol
Menguap dengan pemanasan
|
Bau menyengat
Bau menyengat
Berbau menyengat
|
|
·
Kelarutan dalam air
dan aseton
No
|
Senyawa
|
Pelarut
|
|
Air
|
Aseton
|
||
1
|
Metanol
|
Larut
|
Larut
|
2
|
Gliserol / Gliserin
|
Sukar Larut
|
Larut
|
3
|
Alkohol 70%
|
Larut
|
Larut
|
6.2
Sifat
Kimia
No
|
Langkah
kerja
|
Data
pengamatan
|
Reaksi-reaksi
|
1.
|
Esterifikasi
a.
Mengukur
10 tetes metanol kedalam
tabung reaksi. Kemudian Menambahkan 10 tetes asam asetat glacial.
|
Metanol tidak berwarna
(bening)
Terdapat gelembung
gas yang beraroma CH3COOH serta filtratnya bening keruh
|
CH3OH (aq) + CH3COOH
(aq)
(CH3)2COO (aq) + H2O(aq)
|
b.
Menambahkan
5 tetes H2SO4 pekat.
|
H2SO4
tdak berwarna (bening). Tidak terjadi perubahan warna pada larutan
|
||
c. Memanaskan
dalam penangas air. Menuangkan campuran ke dalam gelas kimia yang sudah diisi
dengan 25 ml air (untuk menghilangkan bau dari asam asetat), mencatat bau gas
yang dihasilkan.
|
Terdapat
gelembung gas dan beraroma cuka
|
||
2.
|
Oksidasi 1
a.
Mengambil
10 tetes metanol
dan menambahkan 5 tetes H2SO4 pekat
|
Metanol
tidak berwarna (bening)
direaksikan dengan H2SO4 (bening) tidak
terjadi perubahan warna.
|
CH3OH (aq) + K2Cr2O7(aq)
HOCHO
(aq) + K2Cr2O7(aq)
H2O(aq)
|
b.
Menambahkan
1 sendok K2CrO7 pada langkah pertama. Kemudian
memanaskan
dalam penangas sampai mendidih. mencium gas yang terbentuk.
|
Terjadi
perubahan warna pada larutan menjadi hijau tua dan dengan aroma yang menyengat (asam karboksilat).
|
||
Oksidasi 2
a.
Meneteskan metanol kedalam pelat tetes
b.
Membuat spiral pada kawat Cu 10 cm.
c.
Memanaskan kawat Cu dan
kemudian dimasukan kedalam metanol
|
Metanol tidak berwarna
Mengahasilkan bau menyengat
|
Cu (s)+ ½ O2 (g) → CuO (s)
H3C-OH(aq) + O2 (aq) → H2CO
(aq) + H2O (aq)
|
|
3.
|
Reaksi
haloform (tes iodoform)
a.
Memasukkan
ke dalam tabung reaksi 10 tetes larutan KI. Kemudian
menuangkan 5 tetes metanol
|
I2 berwarna cokelat.
Tidak terjadi perubahan warna setelah di reaksikan
dengan metanol
|
I2(aq) + CH3OH
(aq) + NaOH (aq) → NaI + CH3OI (aq)
+ H2O (aq)
|
b.
Menambahkan
NaOH sampai warna cokelat menghilang.
|
Perubahan warna menjadi bening dan ada bau.
|
||
c.
Mengocok
terus sampai timbul kristal iodoform (warna kuning) atau tercium bau
iodoform.
|
Timbulnya bau menyengat yang di duga bau iodoform
|
7.
Analisis
Data
·
Sifat Fisika
·
Roman Zat
Warna
a)
Metanol (CH3OH)
Tidak berwarna (bening).
b)
Gliserin (C2H5OH)
Tidak berwarna (bening).
c)
Alkohol 70 %
Tidak berwarna (bening),
Kekentalan
(Viskositas)
a.
Metanol (CH3OH)
Teksturnya tidak kental.
b.
Gliserin (C3H8O3)
Teksturnya Kental, berbau, dan menguap.
c.
Alkohol 70 %
Teksturya tidak kental
dan berbau.
Volalitas
Metanol mudah menguap pada suhu kamar
tanpa pemanasan, gliserin menguap agak lambat dari metanol dan air menguap
lambat dan membutuhkan pemanasan. Faktor
yang mempengaruhi titik didih yakni, berat molekul, adanya zat terlarut, dan
ikatan yang dibentuk antar molekul. Berat molekul berbanding lurus dengan
kenaikan titik didih suatu larutan, semakin besar berat molekul menandakan
bahwa banyaknya molekul dalam larutan tersebut, sehingga pergerakan molekul
semakin sulit dan membuat
ikatan yang dibentuk pun susah putus. Adanya zat terlarut masih berkaitan
dengan penambahan berat molekul. Jenis ikatan juga turut mempengaruhi titik didih suatu
larutan. Larutan yang molekul-molekulnya diikat ionik atau kovalen yang
bersifat kuat maka diperlukan waktu untuk memutuskannya.
·
Kelarutan dalam
Alkohol dan dan Aseton
Kelarutan Alkohol Dalam Air
Metanol
Persamaan reaksi
lengkap :
CH3OH(aq)
CH3OH(aq)
larut.
Mekanisme Reaksi :
Penjelasan
Mekanisme Reaksi:
·
Pada senyawa metanol diatas adanya
tolakan proton pada atom H menimbulkan gaya Coulomb, sehingga elektron ikatan
pada atom C menjadi tidak stabil di dukung lagi dengan perbedaan keelektronegatifan antara atom C
dengan O, dimana O lebih elektronegatif dari C sehingga elektron ikatan antara
atom C dengan O cenderung ke atom O
menyebabkan atom O menjadi parsial negatif (Oδ-) dan atom C menjadi
parsial positif (Cδ+). Begitu pula antara atom O dengan H akibat
adanya perbedaan keelektonegatifan antara atom O dengan H dimana atom O lebih
elektronegatif dari H menyebabkan
elektron ikatan antara atom O dengan H cendrung ke atom O sehingga atom O menjadi parsial negatif (Oδ-)
dan atom H menjadi parsial positif (Hδ+)
·
Pada
molekul air (H2O) dengan
adanya perbedaan keelektronegatifan
antara atom H dengan O, dimana O lebih elektronegatif dari H sehingga elektron
ikatan antara atom H dengan O cenderung
ke atom O menyebabkan atom O menjadi parsial negatif (Oδ-) dan atom
H menjadi parsial positif (Hδ+).
·
Selanjutnya,
metanol larut dalam air dengan membentuk ikatan Hidrogen yang terbentuk dari
atom H pada senyawa metanol dan atom O pada molekul air ; dimana atom O dan H
adanya perbedaan dipol sehingga
membentuk ikatan sementara. Metanol dapat larut karena berat molekulnya kecil
dan hambatan efek sterik yang relatif kecil
meskipun metanol bersifat nonpolar.
Gliserin/Gliserol
Persamaan
Reaksi :
C3H8O3(aq)
C3H8O3 (aq) Sukar larut.
Penjelasan
mekanisme reaksi
:
·
Pada
senyawa propane-1,2,3-triol diatas adanya tolakan proton pada atom H
menimbulkan gaya coulomb,
sehingga elektron ikatan pada atom C menjadi tidak stabil di dukung lagi
dengan perbedaan keelektronegatifan
antara atom C dengan O, dimana O lebih elektronegatif dari C sehingga elektron
ikatan antara atom C dengan O cenderung
ke atom O menyebabkan atom O menjadi parsial negatif (Oδ-) dan atom
C menjadi parsial positif (Cδ+). Begitu pula antara atom O dengan H
akibat adanya perbedaan keelektonegatifan antara atom O dengan H dimana atom O
lebih elektronegatif dari H menyebabkan
elektron ikatan antara atom O dengan H cendrung ke atom O sehingga atom O menjadi parsial negatif (Oδ-)
dan atom H menjadi parsial positif (Hδ+)
·
Pada
molekul air (H2O) dengan
adanya perbedaan keelektronegatifan
antara atom H dengan O, dimana O lebih elektronegatif dari H sehingga elektron
ikatan antara atom H dengan O cenderung
ke atom O menyebabkan atom O menjadi parsial negatif (Oδ-) dan atom
H menjadi parsial positif (Hδ+).
·
Selanjutnya,
propane-1,2,3-triol sukar larut dalam
air karena sukar membentuk ikatan hidrogen dengan molekul air
karena adanya kompetisi antara ikatan hidrogen dengan hambatan efek sterik.
Hambatan efek steriknya yang relatif
lebih besar menyebabkan senyawa propane-1,2,3-triol tidak dapat membentuk ikatan hidrogen. Selain itu faktor kepolaran dari senyawa gliserol ini
yang menyebabkan gliserol sukar larut dalam air karena gliserol bersifat non
polar dan air bersifat polar. Oleh karena itu, senyawa
propane-1,2,3-triol sukar larut dalam
air.
Alkohol
70 % (R-OH)
Persamaan
Reaksi :
R-OH(aq)
R-OH (aq) larut.
Mekanisme
Reaksi :
Penjelasan mekanisme reaksi :
·
Ditinjau pada senyawa alkohol diatas,
adanya tolakan proton pada atom H menimbulkan gaya Coulomb, sehingga elektron
ikatan pada atom C menjadi tidak stabil di dukung lagi dengan perbedaan keelektronegatifan antara atom C
dengan O, dimana O lebih elektronegatif dari C sehingga elektron ikatan antara
atom C dengan O cenderung ke atom O
menyebabkan atom O menjadi parsial negatif (Oδ-) dan atom C menjadi
parsial positif (Cδ+). Begitu pula antara atom O dengan H akibat
adanya perbedaan keelektonegatifan antara atom O dengan H dimana atom O lebih
elektronegatif dari H menyebabkan
elektron ikatan antara atom O dengan H cendrung ke atom O sehingga atom O menjadi parsial negatif (Oδ-)
dan atom H menjadi parsial positif (Hδ+)
·
Pada
molekul air , dipengaruhi oleh beda keelektronegatifan antara atom O dengan H,
dimana keelektronegatifan O lebih besar daripada atom H sehingga elektron ikatan antara atom O
dengan H cenderung ke O atom O menjadi parsial negatif (Oδ-) dan
atom H menjadi parsial positif (Hδ+)
·
Selanjutnya,
alkohol larut dalam air dengan membentuk ikatan Hidrogen yang terbentuk dari
atom H pada senyawa alkohol dan atom O pada molekul air ; dimana atom O dan H
adanya perbedaan dipol sehingga
membentuk ikatan sementara. alkohol dapat larut karena berat molekulnya kecil
dan hambatan efek sterik yang relatif kecil
walaupun alkhol bersifat non polar.
Kelarutan Alkohol Dalam Aseton
Metanol
Persamaan
Reaksi :
CH3OH(aq)
CH3OH(aq)
larut.
Mekanisme
Reaksi :
Penjelasan
mekanisme reaksi :
·
Pada
senyawa metanol diatas adanya tolakan proton pada atom H menimbulkan gaya
Coulomb, sehingga elektron ikatan pada atom C menjadi tidak stabil di dukung
lagi dengan perbedaan keelektronegatifan
antara atom C dengan O, dimana O lebih elektronegatif dari C sehingga elektron
ikatan antara atom C dengan O cenderung
ke atom O menyebabkan atom O menjadi parsial negatif (Oδ-) dan atom
C menjadi parsial positif (Cδ+). Begitu pula antara atom O dengan H
akibat adanya perbedaan keelektonegatifan antara atom O dengan H dimana atom O
lebih elektronegatif dari H menyebabkan
elektron ikatan antara atom O dengan H cendrung ke atom O sehingga atom O menjadi parsial negatif (Oδ-)
dan atom H menjadi parsial positif (Hδ+)
·
Pada
senyawa aseton, di pengaruhi oleh gaya Coloumb dari C1 dan C3 terhadap C2
sehingga elektron terakumulasi pada atom C2 sehingga elektron ikatan antara C2 dengan
C3, C1 dengan C2, C2 dengan O tidak stabil,
didukung lagi dengan perbedaan keelektronegatifan
antara O dan C dimana O lebih elektronegatif dari pada C, sehingga elektron
ikatan antara C dengan O cenderung ke O, mengakibatkan O menjadi parsial negatif (δ-) dan atom C
menjadi parsial positif (δ+) .
·
Selanjutnya, metanol
larut dalam aseton
dengan membentuk ikatan Hidrogen yang terbentuk dari atom H pada senyawa
alkohol dan atom O pada senyawa aseton
; dimana atom O dan H adanya perbedaan dipole akibat perbedaan keelektronegatifan yang besar.
Metanol dapat larut karena metanol dan aseton sama sama bersifat non polar.
·
Gliserol/Gliserin
Mekanisme
Reaksi :
Penjelasan Mekanisme Reaksi :
·
Pada
senyawa propane-1,2,3-triol diatas adanya tolakan proton pada atom H
menimbulkan gaya coulomb,
sehingga elektron ikatan pada atom C menjadi tidak stabil di dukung lagi
dengan perbedaan keelektronegatifan
antara atom C dengan O, dimana O lebih elektronegatif dari C sehingga elektron
ikatan antara atom C dengan O cenderung
ke atom O menyebabkan atom O menjadi parsial negatif (Oδ-) dan atom
C menjadi parsial positif (Cδ+). Begitu pula antara atom O dengan H
akibat adanya perbedaan keelektonegatifan antara atom O dengan H dimana atom O
lebih elektronegatif dari H menyebabkan
elektron ikatan antara atom O dengan H cendrung ke atom O sehingga atom O menjadi parsial negatif (Oδ-)
dan atom H menjadi parsial positif (Hδ+).
·
Pada
senyawa aseton, di pengaruhi oleh gaya Coloumb dari C1 dan C3 terhadap C2
sehingga elektron terakumulasi pada atom C2 sehingga elektron ikatan antara C2 dengan
C3, C1 dengan C2, C2 dengan O tidak stabil,
didukung lagi dengan perbedaan keelektronegatifan
antara O dan C dimana O lebih elektronegatif dari pada C, sehingga elektron
ikatan antara C dengan O cenderung ke O, mengakibatkan O menjadi parsial negatif (δ-) dan atom C
menjadi parsial positif (δ+)
.
·
Selanjutnya, gliserin
larut dalam aseton
dengan membentuk ikatan Hidrogen yang terbentuk dari atom H pada senyawa gliserol dan atom O pada senyawa aseton ; dimana atom O
dan H adanya perbedaan dipol akibat
perbedaan keelektronegatifan yang besar.
Selain itu, gliserin/gliserol
dapat larut karena gliserol / gliserin dan aseton sama sama bersifat non polar.
·
Alkohol
70 %
Persamaan
Reaksi :
R-OH(aq)
R-OH (aq) larut.
Mekanisme
reaksi :
Penjelasan
Mekanisme Reaksi :
·
Ditinjau
pada senyawa alkohol diatas, adanya tolakan proton pada atom H menimbulkan gaya
Coulomb, sehingga elektron ikatan pada atom C menjadi tidak stabil di dukung
lagi dengan perbedaan keelektronegatifan
antara atom C dengan O, dimana O lebih elektronegatif dari C sehingga elektron
ikatan antara atom C dengan O cenderung
ke atom O menyebabkan atom O menjadi parsial negatif (Oδ-) dan atom
C menjadi parsial positif (Cδ+). Begitu pula antara atom O dengan H
akibat adanya perbedaan keelektonegatifan antara atom O dengan H dimana atom O
lebih elektronegatif dari H menyebabkan
elektron ikatan antara atom O dengan H cendrung ke atom O sehingga atom O menjadi parsial negatif (Oδ-)
dan atom H menjadi parsial positif (Hδ+).
·
Pada
senyawa aseton, di pengaruhi oleh gaya Coloumb dari C1 dan C3 terhadap C2
sehingga elektron terakumulasi pada atom C2 sehingga elektron ikatan antara C2 dengan
C3, C1 dengan C2, C2 dengan O tidak stabil,
didukung lagi dengan perbedaan keelektronegatifan
antara O dan C dimana O lebih elektronegatif dari pada C, sehingga elektron
ikatan antara C dengan O cenderung ke O, mengakibatkan O menjadi parsial negatif (δ-) dan atom C
menjadi parsial positif (δ+)
.
·
Selanjutnya, alkohol
larut dalam aseton
dengan membentuk ikatan Hidrogen yang terbentuk dari atom H pada senyawa alkohol dan atom O pada senyawa aseton ; dimana atom O
dan H adanya perbedaan dipol akibat
perbedaan keelektronegatifan yang besar.
Selain itu, alkohol
dapat larut karena alkohol dan aseton sama sama bersifat non polar.
·
Sifat Kimia
Esterifikasi
Persamaan Reaksi
:
CH3OH (aq) + CH3COOH
(aq)
(CH3)2COO (aq)
+ H2O(aq)
Mekanisme Reaksi
:
Penjelasan mekanisme reaksi :
·
Pada
senyawa metanol diatas adanya tolakan proton pada atom H menimbulkan gaya
Coulomb, sehingga elektron ikatan pada atom C menjadi tidak stabil di dukung
lagi dengan perbedaan keelektronegatifan
antara atom C dengan O, dimana O lebih elektronegatif dari C sehingga elektron
ikatan antara atom C dengan O cenderung
ke atom O menyebabkan atom O menjadi parsial negatif (Oδ-) dan atom
C menjadi parsial positif (Cδ+). Begitu pula antara atom O dengan H
akibat adanya perbedaan keelektonegatifan antara atom O dengan H dimana atom O
lebih elektronegatif dari H menyebabkan
elektron ikatan antara atom O dengan H cendrung ke atom O sehingga atom O menjadi parsial negatif (Oδ-)
dan atom H menjadi parsial positif (Hδ+).
·
Pada
senyawa H2SO4
diatas adanya perbedaan keelektronegatifan antara atom S dengan O, dimana O
lebih elektronegatif dari S
sehingga elektron ikatan antara atom S
dengan O putus ke atom O menyebabkan atom O menjadi
negatif (O-) dan atom S
menjadi positif (S+).
·
Selanjutnya, atom O- pada
senyawa metanol berinteraksi dengan atom S+ dari senyawa H2SO4
menghasilkan senyawa metil sulfonat dan atom O- yang putus
dari senyawa H2SO4 akan berinteraksi dengan atom H+
yang putus dari senyawa metanol membentuk molekul air. Hasil reaksi ini
direaksikan selanjutnya direaksikan dengan asam asetat.
·
Pada senyawa metil sulfonat, adanya
perbedaan keelektronegatifan atom O dengan S menyebabkan elektron ikatan antara
atom O dengan S putus ke ato O sehingga atom O menjadi megatif (O-)
dan atom S menjadi positif (S+) . Pada senyawa asam astetat, adanya
perbedaan keelektronegatifan antara atom O dengan dengan C menyebabkan elektron
ikatan antara atom O dengan C putus ke atom O sehingga atom O menjadi negatif
(O-) dan atom C menjadi positif (C+). Selanjutnya atom O
yang putus dari senyawa metil sulfonat berinteraksi dengan atom C dari senyawa
asam asetat membentuk senyawa metil asetat.
Oksidasi 1
Persamaan
Reaksi :
CH3OH (aq) + K2Cr2O7(aq)
HOCHO (aq) + K2Cr2O7(aq)
H2O(aq)
Mekanisme
Reaksi :
Penjelasan mekanisme
reaksi :
·
Pada
senyawa metanol diatas adanya tolakan proton pada atom H menimbulkan gaya
Coulomb, sehingga elektron ikatan pada atom C menjadi tidak stabil di dukung
lagi dengan perbedaan keelektronegatifan
antara atom C dengan O, dimana O lebih elektronegatif dari C sehingga elektron
ikatan antara atom C dengan O cenderung
ke atom O menyebabkan atom O menjadi parsial negatif (Oδ-) dan atom
C menjadi parsial positif (Cδ+). Begitu pula antara atom O dengan H
akibat adanya perbedaan keelektonegatifan antara atom O dengan H dimana atom O
lebih elektronegatif dari H menyebabkan
elektron ikatan antara atom O dengan H cendrung ke atom O sehingga atom O menjadi parsial negatif (Oδ-)
dan atom H menjadi parsial positif (Hδ+).
·
Pada
senyawa H2SO4
diatas adanya perbedaan keelektronegatifan antara atom H dengan O, dimana O
lebih elektronegatif dari H
sehingga elektron ikatan antara atom H
dengan O putus ke atom O menyebabkan atom O menjadi
negatif (O-) dan atom H
menjadi positif (H+).
·
Selanjutnya, atom O- pada
senyawa metanol berinteraksi dengan atom H+ dari senyawa H2SO4
menghasilkan molekul air.dan hasil sampingnnya ion HSO4-
dan H3C-.
·
Selanjutnya,
atom O dari K2Cr2O7 akan mengoksidasi senyawa
metanol menghasilkan senyawa keton dan dioksidasi kembali menghasilkan asam
karboksilat yaitu asam format.
Oksidasi 2
Persamaan
Reaksi :
Cu
(s)+ ½ O2
(g) → CuO (s)
H3C-OH(aq)
+ O2 (aq) → H2CO (aq) + H2O
(aq)
Mekanisme
Reaksi :
Cu
(s)+ ½ O2
(g) → CuO (s)
Penjelasan mekanisme reaksi :
·
Pada
senyawa CuO adanya perbedaan
keelektronegatifan antara atom Cu
dengan O, dimana O lebih elektronegatif dari C sehingga elektron ikatan antara
atom Cu dengan O putus
ke atom O menyebabkan atom O menjadi negatif (O-) dan atom C menjadi
positif (C+). Hasil reaksi ini selanjutnya
direaksikan dengan alkohol.
·
Pada senyawa alkohol, adanya
perbedaan keelektronegatifan antara atom C dengan O, dimana O lebih
elektronegatif dari C sehingga elektron ikatan antara atom C dengan O putus
ke atom O menyebabkan atom O menjadi negatif (O-) dan atom C menjadi
positif (C+).
·
Selanjutnya, atom O dari CuO akan
mengoksidasi alkohol membentuk aldehid dan hasil sampingnya logam Cu dan air (H2O).
Reaksi Haloform
(iodoform)
Persamaan reaksi :
I2(aq) + CH3OH (aq) +
NaOH (aq) → NaI + CH3OI (aq) + H2O (aq)
Mekanisme reaksi :
Penjelasan
mekanisme reaksi :
·
Pada
senyawa metanol, adanya
perbedaan keelektronegatifan antara atom C dengan O, dimana O lebih
elektronegatif dari C sehingga elektron ikatan antara atom C dengan O putus
ke atom O menyebabkan atom O menjadi negatif (O-) dan atom C menjadi
positif (C+).
·
Pada
senyawa I2,
dengan keelektronegatifan yang sama , sehingga elektron masing-masing dibawa atom
I. Namun karena pereaksi putus secara heterolitik menyebabkan I2
juga putus secara heterolitik.
·
Selanjutnya I+
berinteraksi dengan O- dari
senyawa metanol membentuk metil iodida dan H+ dari metanol
berinteraksi dengan I+ membentuk HI. Hasil reaksi ini direaksikan
dengan NaOH
·
Pada
senyawa NaOH, adanya
perbedaan keelektronegatifan antara atom
Na dengan O, dimana O lebih elektronegatif dari Na sehingga elektron
ikatan antara atom Na
dengan O putus ke atom O menyebabkan atom O menjadi
negatif (O-) dan atom Na
menjadi positif (Na+).
·
Pada
senyawa HI, adanya
perbedaan keelektronegatifan antara atom I
dengan H, dimana I lebih elektronegatif
dari H sehingga elektron
ikatan antara atom I
dengan H putus
ke atom I menyebabkan atom I menjadi negatif (I-)
dan atom H
menjadi positif (H+).
·
Selanjutnya I- dari HI berinteraksi dengan Na+ dari senyawa NaOH membentuk NaI dan H+
dari HI berinteraksi dengan HO-
dari NaOH membentuk molekul air.
8.
Pembahasan
Alkohol merupakan senyawa yang memiliki gugus
fugsional –OH yang terikat pada rantai karbon alifatik. Dalam molekul alkohol
gugus fungsi –OH berikatan secara kovalen dengan atom karbon. Alkohol yang memiliki satu gugus –OH disebut
dengan monoalkohol, sedangkan yang memiliki lebih dari satu gugus –OH disebut
dengan polialkohol. Alkohol merupakan monoalkohol turunan alkana. Rumus umum
dari alkohol adalah CnH2n + 1OH atau ditulis R-OH, satu atom H dari
alkana diganti oleh gugus OH. Pada percobaan kali ini bertujuan untuk
menganalisis sifat-sifat dari beberapa jenis alkohol baik dari sifat fisika
maupun sifat kimia. Adapun
sifat fisika yang dianalisis disini yaitu
mengamati roman zat, kelarutan dalam pelarut organik (aseton) maupun
anorganik (air). Pada percobaan menganalisis sifat fisik dan kimia alkohol ini
menggunakan beberapa jenis alkohol yakni alkohol, gliserin dan metanol. Untuk
mengamati roman zatnya, ketiga senyawa ini yakni denga mengamati teksturnya,
warna dan di panaskan serta dilarutkan
dalam air dan aseton. Hasil yang diperoleh pada percobaan sifat fisik ini
antara lain :
Pada metanol, gliserol dan alkohol, mempunyai kemiripan
yaitu tidak berwarna (bening),
berbau menyengat dan mudah menguap. Metanol lebih cepat
menguap dari pada gliserin dan alkohol hal ini di pengaruhi oleh perbedaan berat
molekul dan bentuk molekul atau ikatan antara molekul. Sedangkan alkohol menguap lambat hal ini dipengaruhi oleh
ikatan antar molekul alkohol yang sangat kuat dan membentuk ikatan hidrogen
sesama molekul alkohol. Sifat lainnya yakni metanol dan alkohol teksturnya
tidak kental sedangkan gliserol teksturnya kental. Metanol dan alkohol 70 % larut
dalam air sedangkan gliserin sukar larut
dalam air, hal ini dipengaruhi oleh sifat non polar dari gliserin yang tidak
mudah larut dalam air, selain itu hambatan efek sterik yang besar dan berat
molekul yang besar. Pada alkohol dan metanol meskipun perbedaan sifat kepolaran , namun hambatan efek steriknya kecil
dan berat molekulnya kecil. Metanol, gliserin dan alkohol larut dalam aseton
karena adanya kesamaan sifat kepolaran yaitu sama sama bersifat nonpolar.
Untuk mengetahui
sifat kimia dari alkohol dilakukan beberapa reaksi antara lain esterifikasi,
oksidasi dan pembentukan iodoform. Reaksi-reaksi tersebut dapat di jelaskan
sebagai berikut:
1.
Esterifikasi
Reaksi esterifikasi merupakan
reaksi pembentukan ester dengan reaksi langsung antara suatu asam karboksilat
dengan suatu alkohol. Pada percobaan ini ketika CH3OH + H2SO4
+ CH3COOH menghasilkan ester dengan nama senyawanya metil asetat dan
air sebagai hasil samping dengan bau
yang harum. H2SO4 berperan sebagai katalis sehingga reaksi
antara CH3OH dan CH3COOH
akan mencapai kesetimbangan. Bau yang harum ini disebabkan karena ester dari
asam karboksilat rendah dan ester memiliki titik didih rendah, titik beku yang rendah pula dari
asam karboksilat penyusunnya. Ester bersuhu rendah berupa zat cair yang berbau harum.
2.
Oksidasi
Oksidasi alkohol
mengahasilkan keton atau aldehid atau asam karboksilat. Alkohol primer akan teroksidasi
menjadi aldehida dan pada oksidasi lebih lanjut akan menghasilkan asam
karboksilat. Alkohol sekunder akan teroksidasi menjadi keton. Sedangkan alkohol
tersier tidak dapat teroksidasi karena tidak ada hidrogen yang dilepaskan karbon pembawa
gugus hidroksil. Pada percobaan ini ketika metanol
direaksikan dengan K2Cr2O7 dalam suasana asam
akan menghasilkan asetaldehida dan menghasilkan bau yang harum.
3.
Reaksi kloroform (reaksi
iodoform)
Larutan iodin dimasukan kedalam metanol dan sedikit
larutan NaOH yang secukupnya dengan tujuan untuk menghilangkan warna iodin
yaitu warna coklat. Hasil dari perlakuan ini adalah menghasilkan warna bening
yang artinya larutan iodida dengan cepat mereduksi senyawa NaOH yang akan
menghasilkan senyawa NaI dan CH3OI dan H2O sebagai hasil
samping dan menimbulkan bau yang yang tajam.
9.
Simpulan
Berdasarkan percobaan di atas maka dapat disimpulkan bahwa sifat-sifat fisik
dari alkohol yakni mudah menguap, encer, tidak berwarna.
Dan sifat kimia dari alkohol meliputi esterifikasi, oksidasi, dan reasi
haloform.
10. Jawaban
Pertanyaan
10.1
Pertanyaan : Tuliskan
semua reaksi yang terjadi ?
Jawab :
·
Reaksi kelarutan alkohol dalam air
CH3OH(aq)
CH3OH(aq)
larut.
C3H8O3(aq)
C3H8O3 (aq) Sukar larut.
R-OH(aq)
R-OH (aq) larut.
·
Reaksi kelarutan alkohol dalam aseton
CH3OH(aq)
CH3OH(aq)
larut.
C3H8O3(aq)
C3H8O3 (aq)
larut.
R-OH(aq)
R-OH (aq) larut.
·
Reaksi Esterifikasi
CH3OH (aq) + CH3COOH
(aq)
(CH3)2COO (aq)
+ H2O(aq)
·
Reaksi Oksidasi
CH3OH (aq) + K2Cr2O7(aq)
HOCHO (aq) + K2Cr2O7(aq)
H2O(aq)
10.2
Pertanyaan : Berikan
definisi dan contoh dari alkohol prier, sekunder, tersier dan polihidroksi
alkohol?
Jawab :
·
Alkohol primer yaitu
gugus alkohol yang berikatan dengan atom C yang mengikat 1 atom C yang lain :
Contoh :
·
Alkohol sekunder
yaitu gugus alkohol yang berikatan dengan atom C yang mengikat 2 atom C yang
lain :
Contoh :
·
Alkohol tersier
yaitu gugus alkohol yang berikatan dengan atom C yang mengikat 3 atom C yang
lain :
Daftar Pustaka
Fessenden dan fessenden.1982.Kimia Organik Edisi Ketiga Jilid 1 Dan 2.Erlangga:Jakarta
Cotton dan wilkinson.1973.Kimia Anorganik Dasar.universitas indonesia press:Jakarta
#Sumber laporan : Laboran FKIP Kimia UNWIRA
Tidak ada komentar:
Posting Komentar