Selasa, 30 Mei 2017

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK 1 - BEBERAPA SIFAT SENYAWA ORGANIK DAN ANORGANIK

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK 1 - BEBERAPA SIFAT SENYAWA ORGANIK DAN ANORGANIK


     
 

program studi pendidikan kimia 
Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan 
Universitas Katolik Widya Mandira
Kupang


1.      Judul Praktikum
Judul dari praktikum ini adalah Beberapa sifat Senyawa Organik dan Anorganik”. 
2.      Tujuan Praktikum
Tujuan dari praktikum ini adalah untuk mempelajari beberapa perbedaan sifat umum senyawa organik dan anorganik.

3.      Dasar Teori
Ilmu kimia adalah cabang ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang komposisi, struktur, sifat-sifat, dan perubahan-perubahan dari materi serta energi yang menyertainya. Pertumbuhan dan perkembangan yang cepat dari ilmu kimia telah menyebabkan perlunya pemisahan ke dalam sejumlah bidang kimia yg lebih khusus. Dewasa ini telah dikenal antara lain kimia fisika, kimia analisis, biokimia, kimia anorganik, serta kimia organik.
Kimia organik adalah cabang ilmu kimia yang mempelajari sifat dan reaksi senyawa organik. Bahan organik dihasilkan oleh tumbuhan melalui proses fotosintesis, sehingga unsur karbon merupakan penyusun utama dari bahan organik tersebut yang berada dalam bentuk senyawa polisakarida, seperti selulosa, hemiselulosa, pati serta bahan pektin dan lignin. Selain itu beberapa bahan organik tanah juga mengandung protein dan beberapa senyawa nitrogen lain.
Senyawa organik dibangun terutama oleh karbon dan hidrogen, dan dapat  mengandung unsur-unsur lain seperti nitrogen (N), oksigen (O), fosfor (P), halogen (X) dan belerang (S). Senyawa kimia organik ini berasal dari kesalahpahaman bahwa semua senyawa organik pasti berasal dari organisme hidup, namun telah dibuktikan bahwa ada beberapa pengecualian. Bahkan sebenarnya, kehidupan juga sangat bergantung pada kimia anorganik; sebagai contoh, banyak enzim yang mendasarkan kerjanya pada logam transisi seperti besi dan tembaga, juga gigi dan tulang yang komposisinya merupakan campuran dari senyawa organik.
Pada tahun 1828, seorang ahli kimia bernama Friedrich Wohler berkebangsaaan Jerman berhasil membuat bahan organik (urea) dari bahan anorganik dengan cara memanaskan amonium sianat (bahan anorganik). Sejak penemuan Wohler tersebut, paham Vitalisme tidak dapat diterima lagi dan orang hanya menggunakan kimia organik sebagai nama tanpa disertai dengan arti yang sesunguhnya. Sejak keberhasilan Wohler, telah banyak bahan organik yang berhasil disintesis baik di dalam laboratorium maupun di dalam industri seperti karet, alkohol, plastik, obat-obatan, pestisida, tekstil dan lain sebagainya.
Perbedaan antara senyawa organik dengan anorganik (siregar, 2012) :
No.
Senyawa organik
Senyawa anorganik
1.
Kebanyakan berasal dari makhluk hidup.
Berasal dari sumber daya mineral (bukan makhluk hidup).
2.
Senyawa organik lebih mudah terbakar dan memberikan hasil akhir, H2O dan CO2 dan hasil sampingan lainnya.
Tidak mudah terbakar.
3.
Strukturnya lebih rumit.
Strukturnya sederhana.
4.
Semua senyawa organik mengandung unsur karbon (C).
Tidak semua senyawa anorganik yang mengandung unsur karbon.
5.
Hanya dapat larut dalam pelarut organik.
Dapat larut dalam pelarut organik maupun air.
6.
Umumnya bersifat non-elektrolit.
Umumnya bersifat elektrolit (koduktor listrik dalam larutannya).
7.
Reaksi berlangsung lambat.
Reaksi berlangsung cepat.
8.
Titik didih dan titik lebur rendah.
Titik didih dan titik lebur tinggi.

Senyawa organik disusun oleh atom karbon dan terdapat ikatan C-H pada senyawanya. Ketika senyawa organik dipanaskan maka atom H yang merupakan golongan gas akan mengalami penguapan dan yang tersisa adalah atom karbon. Sesuai dengan namanya karbon identik dengan warna hitam. Maka bila senyawa organik dipanaskan terus-menerus, maka yang diperoleh yakni serbuk hitam atau kehitaman yang merupakan sifat karbon. Sedangkan pada senyawa anorganik, tidak mengalami perubahan apapun karena tidak disusun oleh karbon.
Beberapa faktor yang mempengaruhi titik didih yakni, berat molekul, adanya zat terlarut, dan ikatan yang dibentuk antar molekul. Berat molekul berbanding lurus dengan kenaikan titik didih suatu larutan, semakin besar berat molekul menandakan bahwa banyaknya molekul dalam larutan tersebut, sehingga pergerakan molekul semakin sulit  dan membuat ikatan yang dibentuk pun susah putus. Adanya zat terlarut masih berkaian dengan penambahan berat molekul. Jenis ikatan juga turut mempengaruhi titik didih suatu larutan. Larutan yang molekul-molekulnya diikat ionik atau kovalen yang bersifat kuat maka diperlukan waktu untuk memutuskannya.
Senyawa organik merupakan non elektrolit dan senyawa anorganik merupakan senyawa elektrolit.  Elektrolit merupakan kemampuan untuk menghantarkan arus listrik yang disebabkan oleh terbentuknya kation dan anion dalam larutan, sehingga arus listrik dapat dihantarkan.
Pada dasarnya kelarutan merupakan kemampuan suatu pelarut untuk melarutkan sejumlah zat pelarut. Kelarutan suatu senyawa dalam pelarut tertentu ditentukan oleh sifat senyawa tersebut dan sifat pelarutnya apakah polar atau non polar. Prinsipnya menggunakan kaidah “Like Disolve like” bahwa senyawa polar dapat larut dalam senyawa polar juga, sedangkan senyawa nonpolar dapat larut dalam senyawa non polar.
4.      Alat dan Bahan
            4.1 Alat

·         Kaca arloji
·         Spritus
·         Kaki tiga
·         Kawat asbes
·         Pipet tetes
·         Cawan penguap 
·         Korek api
·         Stopwatch
·         Tabung reaksi
·         Rak tabung reaksi
·         Penjepit tabung reaksi
·         Gelas kimia


4.2  Bahan

·         Gula pasir
·         Daun kering
·         Alumunium
·         Plastik
·         Alkohol 70%
·         Aquades
·         NaCl
·         Lilin
·         Larutan HCl
·         Larutan NaOH
·         Minyak Kelapa
·         Aseton
·         Larutan FeSO4 0,1 M
·         Larutan KMnO4
·         Larutan H2SO4 2 M
5.      Prosedur Kerja
5.1 Komposisi
·         Memanaskan sedikit gula pada suhu tinggi dalam cawan porselin.
·         Memanaskan daun pada suhu tinggi dalam cawan porselin.
·         Memanaskan sepotong plastik pada suhu tinggi dalam cawan porselin.
·         Memanaskan sepotong pita magnesium pada suhu tinggi dalam cawan porselin.
·         Memanaskan sepotong aluminium foil pada suhu tinggi dalam cawan porselin.
5.2 Penguapan
·         Menguapkan masing – masing satu tetes alkohol 70 % dan air dalam kaca arloji.
5.3 Sifat Bakar
·         Membakar sepotong lilin kecil dalam cawan porselin
·         Membakar garam ( NaCl )
5.4 Kelarutan
·         Dalam 2 tabung masing – masing diisi dengan 5 tets minyak kelapa dan 1 sendok kecil NaCl
·         Menambahkan 2 ml H2O kedalam masing – masing tabung.
·         Mengulangi langkah di atas dengan mengganti pelarut air dengan aseton.
5.5 Kecepatan reaksi     
·         Menempatkan 5 tetes FeSO4 0,1 M dalam sebuah tabung reaksi yang bersih.
·         Menambahkan 2 tetes H2SO4 dan 0,1M KMnO4
·         Menempatkan Alkohol  dalam tabung, kemudian.
·         Menambahkan H2SO4 dan KMnO4.
·         Jika tidak ada reaksi yang kelihatan, panaskan campuran ini.
6.       Data  Pengamatan
6.1  Komposisi
No
Langkah Kerja
Data Pengamatan
Reaksi-Reaksi
1.
Memanaskan sedikit gula pada suhu tinggi dalam sebuah porselin.
Terjadi perubahan wujud dari padatan menjadi lelehan (meleleh) dan terjadi perubahan warna dari putih menjadi cokelat.

C25H52 (s) + O2 (g) →  25 CO2 (g) + 26 H2O (l)
2.
Memanaskan sedikit potongan daun kering pada suhu tinggi dalam sebuah porselin.
Daun Kering perlahan-lahan berubah warna menjadi hitam (arang).
     CnHn (s) + n O2 (g) →  n CO2 (g) + n H2O (l)
3.
Memanaskan sedikit potongan alumunium foil pada suhu tinggi dalam sebuah porselin.
Tidak terjadi perubahan.
    Al (s)
4.



Memanaskan sedikit potongan plastik pada suhu tinggi dalam sebuah porselin.
Plastik mula-mula mengkerut dan lama kelamaan meleleh.
    CnHn (s) + n O2 (g) →  n CO2 (g) + n H2O (l)
5.
Membedakan Zat mana yang organik dan yang anorganik?
Organik : gula, daun, dan plastik.
Anorganik : Alumunium foil.

6.2  Penguapan
No
Langkah kerja
Data Pengamatan
Reaksi-Reaksi
1.
Menguapkan 1 tetes masing-masing alkohol dan air di dalam kaca arloji.
Kaca arloji 1 : Alkohol 70%
Kaca arloji 2 : Air
2.
Mencatat dan membandingkan waktu yang diperoleh untuk penguapan sempurna.
Alkohol : 21 sekon
Air         : 40 sekon
3.
Membedakan mana yang digolongkan sebagai senyawa organik dan mana yang anorganik?
Alkohol : senyawa Organik
Air              : Senyawa Anorganik


 6.3  Sifat bakar
No
Langkah kerja
Data pengamatan
Reaksi-Reaksi
1.
Membakar sepotong lilin kecil yang ditempatkan pada sebuah porselin.
Terjadi perubahan wujud dari padatan menjadi lelehan (lilin meleleh).
Lilin Menyala
C25H52 (s) + O2 (g) →  25 CO2 (g) + 26 H2O (l)
2.
Membakar garam NaCl yang ditempatkan pada sebuah porselin.
NaCl Tidak  menyala.
NaCl (s) +  2(g)   
3.
Mebandingkan langkah yang diperoleh.
Manakah yang digolongkan sebagai senyawa organik dan manakah yang anorganik ?
Senyawa organik : lilin
Senyawa anorganik : NaCl





6.4  Daya hantar listrik
No
Langkah kerja
Data pengamatan
Reaksi-reaksi
1.
Daya hantar listrik pada gula, larutan NaCl, HCl, dan NaOH.
Gula dan alkohol tidak dapat menghantarkan arus listrik.
NaCl, HCl, dan NaOH dapat mengahntarkan arus listrik.
R-OH (l) → R-OH (aq)
C12H22O11 (s)   C12H22O11 (aq)
NaOH (aq)  → Na+ (aq) + OH-(aq)
    NaCl (aq)  → Na+ (aq) + Cl-(aq)
HCl (aq)  → H+ (aq) + Cl-(aq)
2.
Manakah yang digolongkan sebagai senyawa organik dan manakah yang anorganik ?
Senyawa organik : gula dan alkohol
Senyawa Anorganik : NaCl, HCl, dan NaOH.

6.5  Kelarutan
No
Langkah kerja
Data pengamatan
Reaksi-reaksi
1.
Menempatkan di dalam 2 tabung reaksi. Masing-masing 5 tetes minyak kelapa dan 1 sendok kecil garam
Tabung 1 : Minyak Kelapa berwarna kuning kecoklatan
Tabung 2 : Garam NaCl


Menambahkan 2 ml air ke dalam kedua tabung.
 Tabung 1 : Minyak dan air tidak menyatu atau dengan kata lain terpisah, bagian atas minyak dan bawah air. Minyak tidak melarut di dalam air.
Tabung 2 : Garam NaCl melarut dalam air.
Minyak  Kelapa + H2O →
a.       Zat manakah yang dapat larut dalam air ?
Garam NaCl

b.      Apakah air merupakan pelarut organik  atau anorganik ?
Air merupakan pelarut Anorganik

c.       Apakah air bersifat polar atau bukan polar ?
Air bersifat Polar

2.
Menambahkan 2 ml aseton ke dalam kedua tabung.
Tabung 1    : Minyak kelapa larut dalam  aseton .
Tabung 2 : garam NaCl tidak larut dala aseton .
Minyak  Kelapa + H2O → larut
a.      Zat manakah yang dapat larut dalam aseton ?
Minyak Kelapa

b.      Apakah aseton merupakan pelarut organik atau anorganik ?
Aseton merupakan pelarut  Organik

c.       Apakah aseton bersifat polar atau bukan polar ?
Aseton bersifat Non polar

                              
6.6  Kecepatan reaksi
No
Langkah kerja
Data pengamatan
Reaksi-reaksi
1.
Menuangkan 5 tetes FeSO4 0,1 M dalam sebuah tabung reaksi bersih.
FeSO4 berwarna kuning muda.


Menambahkan 2 tetes  2 tetes H2SO4 3 M dan KMnO4 0,1 M.
KMnO4 berwarna ungu dan H2SO4 tidak berwarna (bening).


Mengamati hasilnya.
FeSO4 direaksikan  dengan H2SO4 (ungu) menghasilkan perubahan warna menjadi bening. Kemudian hasilnya direaksikan dengan KMnO4 warna ungu menghilang dengan cepat menjadi bening.
FeSO4(aq) + KMnO4(aq)  FeSO4 (aq) + KSO4- (aq)

2.
Menunangkan 5 tetes alcohol 70 % yang tidak murni ke dalam sebuah tabung reaksi bersih.
Alkohol tidak berwarna (bening).


Menambahkan 2 tetes H2SO4 3 M 0,1 M KMnO4 .
Mengamati hasilnya.
Alkohol direaksikan dengan H2SO4  tidak mengalami perubahan warna. Kemudian hasilnya  direaksikan dengan KMnO4 warna ungu menghilang secara perlahan enjadi bening.


Memanaskan campuran ini dalam penangas air jika tidak ada reaksi yang kelihatan.
Ketika dipanaskan hasilnya lebih bening dari sebelumnya.


Membandingkan kecepatan dari kedua reaksi tersebut.
Reaksi pertama (FeSO4) lebih cepat terjadi dari pada reaksi kedua (alcohol 70 %).




7        Analisis Data
7.1  Komposisi
No
Senyawa
Mekanisme Reaksi
Jenis Senyawa
1
Lilin (C25H52)
C25H52 (s) + O2 (g) →  25 CO2 (g) + 26 H2O (l)
Organik

2
Daun (CnHn)
     CnHn (s) + n O2 (g) →  n CO2 (g) + n H2O (l)
Organik

3
Plastik (CnHn)
    CnHn (s) + n O2 (g) →  n CO2 (g) + n H2O (l)
Organik

4
Sepotong Alumunium
    Al (s)
Anorganik

Penjelasan :
Senyawa Organik dibakar menghasilkan CO2 dan H2O untuk reaksi pembakaran sempurna dan menghasilkan CO dan H2O untuk reaksi pembakaran tidak sempurna. Sedangkan senyawa anorganik pada umumnya tidak mengalami perubahan ketika dibakar.

7.2  Penguapan
No
Senyawa
Mekanisme Reaksi
 Jenis Senyawa
1
Alkohol 70 % (R-OH)
 
Organik
2
Air (H2O)
Anorganik
Penjelasan :
Penguapan berhubungan dengan titik didih suatu zat. Adapun beberapa faktor yang mempengaruhi titik didih yakni, berat molekul, adanya zat terlarut, dan ikatan yang dibentuk antar molekul. Berat molekul berbanding lurus dengan kenaikan titik didih suatu larutan, semakin besar berat molekul menandakan bahwa banyaknya molekul dalam larutan tersebut, sehingga pergerakan molekul semakin sulit  dan membuat ikatan yang dibentuk pun susah putus. Adanya zat terlarut masih berkaian dengan penambahan berat molekul. Jenis ikatan juga turut mempengaruhi titik didih suatu larutan. Larutan yang molekul-molekulnya diikat ionik atau kovalen yang bersifat kuat maka diperlukan waktu untuk memutuskannya.
7.3 Sifat bakar
No
Senyawa
Mekanisme Reaksi
 Jenis Senyawa
1
Lilin (C25H52)
C25H52 (s) + O2 (g) →  25 CO2 (g) + 26 H2O (l)
Organik
2
Garam Dapur (NaCl)
NaCl (s) +  2(g)   
Anorganik
Penjelasan :
Senyawa Organik dibakar menghasilkan CO2 dan H2O untuk reaksi pembakaran sempurna dan menghasilkan CO dan H2O untuk reaksi pembakaran tidak sempurna. Sedangkan senyawa anorganik pada umumnya tidak mengalami perubahan ketika dibakar. Pada umumnya senyawa organik mudah terbakar sedangkan senyawa anorganik tidak mudah terbakar.
  
7.4  Daya hantar listrik
No
Senyawa
Mekanisme Reaksi
 Jenis Senyawa
1
Alkohol 70 % (R-OH)
R-OH (l) → R-OH (aq)
Organik

2
Gula (C12H22O11)
C12H22O11 (s)   C12H22O11 (aq)
Organik

3
NaOH (aq)
 NaOH (aq)  → Na+ (aq) + OH-(aq)
Anorganik

4
NaCl (aq)
    NaCl (aq)  → Na+ (aq) + Cl-(aq)
Anorganik
5
HCl (aq)
HCl (aq)  → H+ (aq) + Cl-(aq)
Anorganik
Penjelasan :
Senyawa organik umumnya bersifat nonelektrolit dan dilarutkan di dalam air tidak terurai menjadi ion-ionnya, tetapi masih dalam bentuk molekulnya, sedangkan senyawa anorganik dilarutkan didalam air terurai menjadi ion-ionnya. Hal ini yang menjadi faktor senyawa anorganik  bersifat elektrolit.
7.5 Kelarutan  
No
Pelarut
Zat Terlarut
 Mekanisme Reaksi
1
Air
(anorganik)
Minyak  Kelapa
Minyak  Kelapa + H2O →
Garam NaCl
2
Aseton
(Organik)
Minyak  Kelapa
Minyak  Kelapa + H2O → larut
Garam NaCl

Penjelasan :
Senyawa organik larut dalam pelarut organik dan tidak larut dalam pelarut anorganik. Senyawa organik dengan berat molekul yang kecil dapat larut dalam senyawa anorganik karena hambatan efek steriknya kecil.   Sedangkan Senyawa anorganik larut dalam pelarut organik dan umumnya larut dalam pelarut anorganik.

 7.6 Kecepatan Reaksi
Reaksi FeSO4
Persamaan reaksi :

FeSO4(aq) + KMnO4(aq)  FeSO4 (aq) + KSO4- (aq)

Mekanisme reaksi :

 
      Penjelasan reaksi :
·                      Pada senyawa FeSO4 adanya   perbedaan keelektronegatifan antara atom Fe dengan O, dimana O lebih elektronegatif dari Fe sehingga elektron ikatan antara atom Fe dengan O  putus  ke atom O menyebabkan atom O menjadi  negatif (O-) dan atom Fe menjadi positif (Fe+). Begitu pula antara atom O dengan H pada senyawa H2SO4, akibat adanya perbedaan keelektonegatifan antara atom O dengan H dimana atom O lebih elektronegatif dari H  menyebabkan elektron ikatan antara atom O dengan H putus ke atom O sehingga  atom O menjadi negatif (O-) dan atom H menjadi  positif (H+).
·                       Pada senyawa KMnO4 adanya   perbedaan keelektronegatifan antara atom K dengan O, dimana O lebih elektronegatif dari K sehingga elektron ikatan antara atom K dengan O  putus  ke atom O menyebabkan atom O menjadi  negatif (O-) dan atom K menjadi positif (K+). Begitu pula antara atom O dengan Mn, akibat adanya perbedaan keelektonegatifan antara atom O dengan Mn dimana atom O lebih elektronegatif dari Mn  menyebabkan elektron ikatan antara atom O dengan Mn putus ke atom O sehingga  atom O menjadi parsial negatif (Oδ-) dan atom Mn menjadi  parsial positif (Mnδ+). Salah satu tangan O yang berikatan rangkap 2 (ikatan П) putus menjadi ikatan sigma ( Æ© ) untuk berikatan dengan atom Fe.
·                  Selanjutnya, atom Fe  dari senyawa FeSO4 berinteraksi dengan Mn dari senyawa KMnO4 membentuk senyawa FeMnO4 dan H2SO4 terbentuk kembali dan atom K berinteraksi dengan O- dari senyawa KSO4- .
Reaksi Alkohol
Persamaan Reaksi :
R-OH (aq) + KMnO4(aq)­  R=O (aq)  + KMnO3 (aq)
mekanisme reaksi
 
Penjelasan mekanisme reaksi :
·                   Pada senyawa R-OH, adanya   perbedaan keelektronegatifan antara atom R dengan O, dimana O lebih elektronegatif dari R sehingga elektron ikatan antara atom R dengan O  putus  ke atom O menyebabkan atom O menjadi  negatif (O-) dan atom R menjadi positif (R+). Begitu pula antara atom O dengan H pada senyawa H2SO4, akibat adanya perbedaan keelektonegatifan antara atom O dengan H dimana atom O lebih elektronegatif dari H  menyebabkan elektron ikatan antara atom O dengan H putus ke atom O sehingga  atom O menjadi negatif (O-) dan atom H menjadi  positif (H+).
·                       Pada senyawa KMnO4 adanya   perbedaan keelektronegatifan antara atom K dengan O, dimana O lebih elektronegatif dari K sehingga elektron ikatan antara atom K dengan O  putus  ke atom O menyebabkan atom O menjadi  negatif (O-) dan atom K menjadi positif (Fe+). Begitu pula antara atom O dengan Mn, akibat adanya perbedaan keelektonegatifan antara atom O dengan Mn dimana atom O lebih elektronegatif dari Mn  menyebabkan elektron ikatan antara atom O dengan Mn putus ke atom O sehingga  atom O menjadi negatif (O-) dan atom Mn menjadi  positif (Mnδ+).
·                  Selanjutnya, atom O  dari senyawa KMnO4, akan mengoksidasi alkohol menjadi keton aldehid atau karboksilat bergantung jenis alkohol.


8.      Pembahasan
8.1  Komposisi
               Pada uji komposisi, senyawa yang digunakan yakni gula (C12H22O11), daun  (CnHn), aluminium foil (Al) dan plastik (CnHn) untuk membedakan mana yang termasuk senyawa organik dan mana yang termasuk senyawa anorganik. Telah dijelaskan sebelumnya bahwa senyawa organik disusun oleh atom karbon dan terdapat ikatan C-H pada senyawanya dan dapat  mengandung unsur-unsur lain seperti nitrogen (N), oksigen (O), fosfor (P), halogen (X) dan belerang (S). Ketika senyawa organik dipanaskan maka atom H yang merupakan golongan gas akan mengalami penguapan dan yang tersisa adalah atom karbon. Sesuai dengan namanya karbon identik dengan warna hitam. Maka bila senyawa organik dipanaskan terus menerus, maka yang diperoleh yakni serbuk hitam atau kehitaman yang merupakan sifat karbon. Sedangkan pada senyawa anorganik, tidak mengalami perubahan apapun karena pada umumnya tidak mengandung atom karbon.
             Pada hasil percobaan, menunjukkan lilin, daun dan plastik ketika dibakar, akan berubah wujud yakni gula putih menjadi kecokelatan, daun menjadi arang dan plastik pun mengkerut dan secara perlahan meleleh. Sedangkan pada aluminium foil tidak terjadi perubahan apapun saat dibakar. Maka dapat dikelompokkan bahwa yang termasuk senyawa organik adalah gula, daun dan plastik sedangkan yang merupakan senyawa anorganik yakni aluminium foil.
8.2       8.2. Penguapan
Pada uji penguapan, hasil yang diperoleh yakni, ketika air dan alkohol  masing-masing dipanaskan secara bersamaan dalam jumlah yang sama yakni 1 tetes, ternyata yang paling cepat menguap adalah Alkohol dengan waktu yang dibutuhkan untuk habis menguap adalah 21 detik, sedangkan air membutuhkan waktu 40 detik untuk habis menguap. Seperti yang diketahui beberapa faktor yang mempengaruhi titik didih yakni, berat molekul, adanya zat terlarut, dan ikatan yang dibentuk antar molekul. Berat molekul berbanding lurus dengan kenaikan titik didih suatu larutan, semakin besar berat molekul menandakan bahwa banyaknya molekul dalam larutan tersebut, sehingga pergerakan molekul semakin sulit dan membuat ikatan yang dibentuk pun susah putus. Adanya zat terlarut masih berkaitan dengan penambahan berat molekul. Jenis ikatan juga turut mempengaruhi titik didih suatu larutan. Larutan yang molekul-molekulnya diikat ionik atau kovalen yang bersifat kuat maka diperlukan waktu untuk memutuskannya.
Alkohol walaupun memiliki berat molekul yang lebih tinggi daripada air, tetapi lebih cepat mencapai titik didihnya dibandingkan dengan air. Hal ini dipengaruhi oleh faktor ikatan yang dibentuk oleh molekul air, dimana antara atom O pada suatu molekul akan mengikat atom H membentuk ikatan hidrogen pada molekul lainnya. Berdasarkan teori, ikatan hidrogen ini merupakan ikatan kovalen polar yang tingkat kekuatan ikatannya berada di bawah ikatan ionik dan ikatan ini hanya dibentuk oleh senyawa organik. Untuk memutuskan ikatan hidrogen sangat susah sebab kecendrungan atom H tertarik ke atom C, yang lebih bersifat elektronegatif dari pada atom H, sehingga ikatan ini susah untuk dilepaskan. Sedangkan pada Alkohol juga terjadi ikatan hidrogen pada molekulnya, mengingat Alkohol memiliki molekul yang hampir sama dengan air, tetapi adanya gugus alkil pada sisi lain atom O yang membuat ikatan yang dibentuk tidak sekuat ikatan yang dibentuk oleh air.


8.3  Sifat Bakar
Berdasarkan teori, senyawa organik lebih mudah terbakar dan memberikan hasil akhir berupa CO2 dan H2O untuk pembakaran sempurna dan memberikan hasil akhir CO dan H2O untuk pembakaran tidak sempurna, sementara senyawa anorganik sukar terbakar karena pada sturuktur senyawa anorganik pada umumnya tidak tersusun oleh atom  karbon kecuali karbida, karbonat, dan oksida karbon.
Dilihat dari hasil pengamatan dan analisis data yang telah ada menunjukkan bahwa, pada awalnya lilin dalam bentuk padat berwarna putih, saat dipanaskan dalam cawan porselin, lilin akan menyala dan meleleh sebab lilin tergolong dalam senyawa organik. Sedangkan garam pada awalnya dalam bentuk butiran-butiran berwarna putih saat dipanaskan garam tidak meleleh dan tidak terjadi arang, sebab garam tergolong dalam senyawa anorganik, sehingga mempunyai perbandingan hasil yang berbeda.

8.4  Daya hantar listrik
Seperti kita ketahui bersama, senyawa organik pada umumnya bersifat non elektrolit dan senyawa anorganik merupakan senyawa elektrolit. Senyawa  elektrolit merupakan senyawa yang mampu menghantarkan arus listrik karena terurai menjadi ion-ionnya dalam air. Larutan NaCl, HCl, dan NaOH dapat terurai menjadi ion-ionnya dalam air, sehingga ketiga senyawa ini mampu menghantarkan arus listrik. Karena mampu menghantarkan arus listrik atau daya hantar listriknya besar, maka digolongkan ke dalam senyawa anorganik. Sedangkan gula (C12H22O11) dan alkohol (R-OH) tidak dapat terurai menjadi ion-ionnya dalam air, sehingga gula dan alkohol  tidak mampu menghantarkan arus listrik dan digolongkan ke dalam senyawa organik.

8.5  Kelarutan
Pada dasarnya kelarutan merupakan kemampuan suatu pelarut untuk melarutkan sejumlah zat pelarut. Kelarutan suatu senyawa dalam pelarut tertentu ditentukan oleh sifat senyawa tersebut dan sifat pelarutnya apakah polar atau non polar. Prinsipnya menggunakan kaidah “Like Disolve like” bahwa senyawa polar dapat larut dalam senyawa polar juga, sedangkan senyawa nonpolar dapat larut dalam senyawa non polar. Pada percobaan ini digunakan beberapa senyawa organik yang memiliki kepolaran yang berbeda-beda.
Pada uji kelarutan yang pertama, direaksikan antara air dengan minyak dan air dengan NaCl. Seperti pada data pengamatan bahwa ketika dicampurkan, minyak tidak melarut dalam air, hal ini menunjukkan bahwa minyak dan air memiliki kepolaran yang berbeda di mana, air merupakan senyawa polar dan minyak merupakan senyawa non polar. Selanjutnya ketika air dicampurkan dengan NaCl, NaCl melarut dalam air, hal ini membuktikan bahwa kedua senyawa ini memiliki sifat kepolaran yang sama yakni sama-sama polar. NaCl merupakan senyawa anorganik. Karena air mampu melarutkan NaCl yang merupakan senyawa anorganik, maka air termasuk pelarut anorganik.
Pada tahap kedua, direaksikan antara aseton dengan minyak kelapa dan aseton dengan NaCl. Ketika aseton dicampurkan dengan minyak, terjadi proses pelarutan, hal ini menunjukkan bahwa keduanya memiliki kepolaran yang sama, yakni sama-sama non-polar. Sedangkan ketika aseton dicampurkan ke dalam NaCl, NaCl tidak melarut dalam aseton. Hal ini menunjukkan bahwa NaCl dan aseton memiliki kepolaran yang berbeda, di mana NaCl merupakan senyawa polar dan aseton merupakan senyawa non-polar. Karena aseton mampu melarutkan minyak kelapa yang merupakan senyawa organik, maka aseton termasuk pelarut organik.
Jadi, dari senyawa-senyawa yang digunakan dalam percobaan ini yang merupakan senyawa polar yakni air dan NaCl sedangkan yang bersifat non polar yakni minyak dan aseton. Air termasuk pelarut anorganik dan yang termasuk pelarut organik adalah  aseton.

8.6  Kecepatan reaksi
Teori menyatakan bahwa reaksi pada senyawa organik terjadi secara lambat dan reaksi pada senyawa anorganik berlangsung cepat. Reaksi pada senyawa anorganik berlangsung secara cepat karena tersusun oleh unsur-unsur yang sangat elektronegatif, sehingga memilki kemampuan yang besar  untuk menarik elektron dari unsur lain. FeSO4 merupakan senyawa anorganik sehingga senyawa ini dapat bereaksi dengan KMnO4 secara cepat. Sedangkan alkohol merupakan senyawa organik yang tersusun atas unsur-unsur yang kurang elektronegatif, sehingga kemampuan unutk menarik elektron dari unsur lainnya kecil yang meyebabkan reaksinya berjalan lambat.
Berdasarkan hasil percobaan, FeSO4 direaksikan  dengan H2SO4 (ungu) menghasilkan warna bening. Kemudian hasilnya direaksikan dengan KMnO4 warna ungu menghilang dengan cepat menjadi bening. Kemudian Alkohol direaksikan dengan H2SO4  tidak mengalami perubahan warna. Kemudian hasilnya  direaksikan dengan KMnO4 warna ungu menghilang secara perlahan menjadi bening. Reaksi FeSO4 lebih cepat dari pada reaksi alkohol.


9.      Simpulan
Berdasarkan percobaan ini, maka dapat disimpulkan bahwa perbedaan senyawa organik dan anorganik adalah :
1.      Senyawa organik
Semua senyawa organik mengandung unsur karbon atau lebih sederhananya memiliki atom karbon sebagai salah satu unsur yang menyusun senyawa tersebut kecuali karbida, karbonat dan oksida karbon, di udara senyawa organik lebih mudah menguap, senyawa organik lebih mudah terbakar dan memberikan hasil akhir CO2 dan H2O untuk reaksi pembakaran sempurna dan menghasilkan CO dan H2O untuk reaksi pembakaran tidak sempurna,, umumnya bersifat non-elektrolit sehingga sukar menghantarkan arus listrik, hanya dapat larut dalam pelarut organik yang bersifat non-polar, dan reaksinya berlangsung lambat
2.      Senyawa anorganik
Tidak semua senyawa anorganik memiliki unsur karbon dalam hal ini senyawa yang terbentuk dari unsur logam, non logam dan sebagainya, di udara senyawa anorganik lebih sukar menguap, tidak mudah terbakar, umumnya bersifat elektrolit (konduktor listrik dalam larutannya), dapat larut dalam pelarut anorganik yang bersifat polar, dan reaksi berlangsung cepat.



Daftar Pustaka
Vogel. 1990. Analisis Anorganik Kualitatif Makro dan Semimikro. Jakarta:  Kalman Media Pusaka
Fessenden & Fessenden. 1999. Kimia Organik Edisi Ketiga. Jakarta : Erlangga
Sumber lain :
http://www.ut.ac.id/html/suplemen/pipa4335/sej-organik.html 


#sumber laporan : Laboran Fkip Kimia Unwira


laporan praktikum organik - senayawa Hidrokarbon

Jangan Lupa Saksikan: Ritual Bulan Suci di Pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur <script data-ad-client="ca-pub-5022506125934657" a...