LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK 1 - BEBERAPA SIFAT SENYAWA ORGANIK DAN ANORGANIK
program studi pendidikan kimia
Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan
Universitas Katolik Widya Mandira
Kupang
1.
Judul
Praktikum
Judul
dari praktikum ini adalah “Beberapa sifat Senyawa
Organik dan Anorganik”.
2.
Tujuan
Praktikum
Tujuan dari praktikum ini
adalah untuk mempelajari beberapa perbedaan sifat umum senyawa organik dan
anorganik.
3.
Dasar
Teori
Ilmu
kimia adalah cabang ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang komposisi,
struktur, sifat-sifat, dan perubahan-perubahan dari materi serta energi yang
menyertainya. Pertumbuhan dan perkembangan yang cepat dari ilmu kimia telah
menyebabkan perlunya pemisahan ke dalam sejumlah bidang kimia yg lebih khusus.
Dewasa ini telah dikenal antara lain kimia fisika, kimia analisis, biokimia,
kimia anorganik, serta kimia organik.
Kimia organik adalah cabang ilmu kimia yang mempelajari
sifat dan reaksi senyawa organik. Bahan organik dihasilkan oleh tumbuhan
melalui proses fotosintesis, sehingga unsur karbon merupakan penyusun utama
dari bahan organik tersebut yang berada dalam bentuk senyawa polisakarida, seperti selulosa, hemiselulosa, pati serta bahan
pektin dan lignin. Selain itu beberapa bahan organik tanah juga mengandung
protein dan beberapa senyawa nitrogen lain.
Senyawa organik dibangun terutama oleh karbon dan
hidrogen, dan dapat mengandung unsur-unsur
lain seperti nitrogen (N), oksigen (O), fosfor (P), halogen (X) dan belerang (S). Senyawa kimia organik ini berasal dari kesalahpahaman
bahwa semua senyawa organik pasti berasal dari organisme hidup, namun telah
dibuktikan bahwa ada beberapa pengecualian. Bahkan sebenarnya, kehidupan juga sangat
bergantung pada kimia anorganik; sebagai contoh, banyak enzim yang mendasarkan
kerjanya pada logam transisi seperti besi dan tembaga, juga gigi dan tulang
yang komposisinya merupakan campuran dari senyawa organik.
Pada tahun 1828, seorang ahli kimia bernama
Friedrich Wohler berkebangsaaan Jerman berhasil membuat bahan organik (urea) dari bahan
anorganik dengan cara memanaskan amonium sianat (bahan anorganik). Sejak
penemuan Wohler tersebut, paham Vitalisme tidak dapat diterima lagi dan orang
hanya menggunakan kimia organik sebagai nama tanpa disertai dengan arti yang
sesunguhnya. Sejak keberhasilan Wohler, telah banyak bahan organik yang
berhasil disintesis baik di dalam laboratorium maupun di dalam industri seperti
karet, alkohol, plastik, obat-obatan, pestisida, tekstil dan lain sebagainya.
Perbedaan antara senyawa organik dengan anorganik
(siregar, 2012) :
No.
|
Senyawa organik
|
Senyawa anorganik
|
1.
|
Kebanyakan berasal dari makhluk hidup.
|
Berasal dari sumber daya mineral (bukan makhluk hidup).
|
2.
|
Senyawa organik lebih mudah terbakar dan memberikan hasil akhir, H2O
dan CO2 dan hasil sampingan lainnya.
|
Tidak mudah terbakar.
|
3.
|
Strukturnya lebih rumit.
|
Strukturnya sederhana.
|
4.
|
Semua senyawa organik mengandung unsur karbon
(C).
|
Tidak semua senyawa anorganik yang mengandung unsur karbon.
|
5.
|
Hanya dapat larut dalam pelarut organik.
|
Dapat larut dalam pelarut organik maupun air.
|
6.
|
Umumnya bersifat non-elektrolit.
|
Umumnya bersifat elektrolit (koduktor listrik dalam larutannya).
|
7.
|
Reaksi berlangsung lambat.
|
Reaksi berlangsung cepat.
|
8.
|
Titik didih dan titik lebur rendah.
|
Titik didih dan titik lebur tinggi.
|
Senyawa organik
disusun oleh atom karbon dan terdapat ikatan C-H pada senyawanya. Ketika
senyawa organik
dipanaskan maka atom H yang merupakan golongan gas akan mengalami penguapan dan
yang tersisa adalah atom karbon. Sesuai dengan namanya karbon identik dengan
warna hitam. Maka bila senyawa organik dipanaskan terus-menerus, maka yang diperoleh yakni serbuk hitam atau
kehitaman yang merupakan sifat karbon. Sedangkan pada senyawa anorganik, tidak
mengalami perubahan apapun karena tidak disusun oleh karbon.
Beberapa faktor
yang mempengaruhi titik didih yakni, berat molekul, adanya zat terlarut, dan
ikatan yang dibentuk antar molekul. Berat molekul berbanding lurus dengan
kenaikan titik didih suatu larutan, semakin besar berat molekul menandakan
bahwa banyaknya molekul dalam larutan tersebut, sehingga pergerakan molekul
semakin sulit dan membuat ikatan yang dibentuk
pun susah putus. Adanya zat terlarut masih berkaian dengan penambahan berat molekul. Jenis ikatan juga turut mempengaruhi titik
didih suatu larutan. Larutan yang molekul-molekulnya diikat ionik atau kovalen
yang bersifat kuat maka diperlukan waktu untuk memutuskannya.
Senyawa organik
merupakan non elektrolit dan senyawa anorganik merupakan senyawa
elektrolit. Elektrolit merupakan
kemampuan untuk menghantarkan arus listrik yang disebabkan oleh terbentuknya kation dan anion dalam
larutan, sehingga arus listrik dapat dihantarkan.
Pada dasarnya
kelarutan merupakan kemampuan suatu pelarut untuk melarutkan sejumlah zat
pelarut. Kelarutan suatu senyawa dalam pelarut tertentu ditentukan oleh sifat
senyawa tersebut dan sifat pelarutnya apakah polar atau non polar. Prinsipnya
menggunakan kaidah “Like Disolve like” bahwa senyawa polar dapat larut dalam
senyawa polar juga, sedangkan senyawa nonpolar dapat larut dalam senyawa non
polar.
4.
Alat
dan Bahan
4.1 Alat
·
Kaca arloji
·
Spritus
·
Kaki tiga
·
Kawat asbes
·
Pipet tetes
·
Cawan penguap
·
Korek api
·
Stopwatch
·
Tabung reaksi
·
Rak tabung reaksi
·
Penjepit tabung reaksi
·
Gelas kimia
4.2
Bahan
·
Gula pasir
·
Daun kering
·
Alumunium
·
Plastik
·
Alkohol 70%
·
Aquades
·
NaCl
·
Lilin
·
Larutan HCl
·
Larutan NaOH
·
Minyak Kelapa
·
Aseton
·
Larutan FeSO4 0,1 M
·
Larutan KMnO4
·
Larutan H2SO4
2 M
5.
Prosedur Kerja
5.1 Komposisi
·
Memanaskan sedikit gula
pada suhu tinggi dalam cawan porselin.
·
Memanaskan daun pada
suhu tinggi dalam cawan porselin.
·
Memanaskan sepotong
plastik pada suhu tinggi dalam cawan porselin.
·
Memanaskan sepotong pita magnesium pada suhu
tinggi dalam cawan porselin.
·
Memanaskan sepotong
aluminium foil
pada suhu tinggi dalam cawan porselin.
5.2
Penguapan
·
Menguapkan masing –
masing satu tetes alkohol 70 % dan
air dalam kaca arloji.
5.3
Sifat
Bakar
·
Membakar sepotong lilin
kecil dalam cawan porselin
·
Membakar garam ( NaCl )
5.4
Kelarutan
·
Dalam 2 tabung masing –
masing diisi dengan 5 tets minyak kelapa dan 1 sendok kecil NaCl
·
Menambahkan 2 ml H2O
kedalam masing – masing tabung.
·
Mengulangi langkah
di atas dengan mengganti pelarut air dengan aseton.
5.5 Kecepatan reaksi
·
Menempatkan 5 tetes
FeSO4 0,1 M dalam sebuah tabung reaksi yang bersih.
·
Menambahkan 2 tetes H2SO4
dan 0,1M KMnO4
·
Menempatkan Alkohol dalam tabung, kemudian.
·
Menambahkan
H2SO4 dan KMnO4.
·
Jika tidak ada
reaksi yang kelihatan, panaskan campuran ini.
6.
Data Pengamatan
6.1
Komposisi
No
|
Langkah
Kerja
|
Data
Pengamatan
|
Reaksi-Reaksi
|
1.
|
Memanaskan sedikit gula pada suhu tinggi dalam
sebuah porselin.
|
Terjadi perubahan wujud dari padatan menjadi
lelehan (meleleh) dan terjadi perubahan warna dari putih menjadi cokelat.
|
C25H52
(s) + O2 (g) → 25
CO2 (g) + 26 H2O (l)
|
2.
|
Memanaskan sedikit
potongan daun kering pada suhu tinggi dalam sebuah porselin.
|
Daun
Kering
perlahan-lahan berubah warna menjadi hitam (arang).
|
CnHn (s) + n O2
(g) → n
CO2 (g) + n H2O (l)
|
3.
|
Memanaskan sedikit
potongan alumunium foil pada suhu tinggi dalam sebuah porselin.
|
Tidak terjadi perubahan.
|
Al (s) →
|
4.
|
Memanaskan sedikit
potongan plastik pada suhu tinggi dalam sebuah porselin.
|
Plastik mula-mula mengkerut dan lama
kelamaan meleleh.
|
CnHn (s) + n O2
(g) → n
CO2 (g) + n H2O (l)
|
5.
|
Membedakan
Zat mana yang organik dan yang anorganik?
|
Organik : gula, daun, dan plastik.
Anorganik : Alumunium
foil.
|
6.2
Penguapan
No
|
Langkah
kerja
|
Data
Pengamatan
|
Reaksi-Reaksi
|
1.
|
Menguapkan 1 tetes
masing-masing alkohol dan air di dalam kaca arloji.
|
Kaca arloji 1 : Alkohol 70%
Kaca arloji 2 : Air
|
|
2.
|
Mencatat dan
membandingkan waktu yang diperoleh untuk penguapan sempurna.
|
Alkohol
: 21 sekon
Air : 40 sekon
|
|
3.
|
Membedakan
mana yang digolongkan sebagai senyawa organik dan mana yang anorganik?
|
Alkohol
: senyawa Organik
Air : Senyawa
Anorganik
|
6.3 Sifat bakar
No
|
Langkah
kerja
|
Data
pengamatan
|
Reaksi-Reaksi
|
1.
|
Membakar sepotong
lilin kecil yang ditempatkan pada sebuah porselin.
|
Terjadi perubahan wujud dari padatan menjadi
lelehan (lilin meleleh).
Lilin Menyala
|
C25H52
(s) + O2 (g) → 25
CO2 (g) + 26 H2O (l)
|
2.
|
Membakar garam NaCl
yang ditempatkan pada sebuah porselin.
|
NaCl Tidak menyala.
|
NaCl
(s) + O2(g) →
|
3.
|
Mebandingkan langkah
yang diperoleh.
Manakah yang
digolongkan sebagai senyawa organik dan manakah yang anorganik ?
|
Senyawa organik : lilin
Senyawa anorganik : NaCl
|
|
6.4
Daya
hantar listrik
No
|
Langkah
kerja
|
Data
pengamatan
|
Reaksi-reaksi
|
1.
|
Daya hantar listrik pada gula, larutan NaCl, HCl,
dan NaOH.
|
Gula dan alkohol tidak dapat menghantarkan arus listrik.
NaCl, HCl, dan NaOH dapat mengahntarkan arus
listrik.
|
R-OH (l) → R-OH (aq)
C12H22O11
(s) → C12H22O11
(aq)
NaOH (aq) → Na+ (aq) + OH-(aq)
NaCl (aq) → Na+
(aq) + Cl-(aq)
HCl (aq) → H+ (aq) + Cl-(aq)
|
2.
|
Manakah yang digolongkan sebagai senyawa organik
dan manakah yang anorganik ?
|
Senyawa organik : gula dan
alkohol
Senyawa Anorganik : NaCl, HCl, dan NaOH.
|
6.5
Kelarutan
No
|
Langkah
kerja
|
Data
pengamatan
|
Reaksi-reaksi
|
1.
|
Menempatkan di dalam 2 tabung reaksi.
Masing-masing 5 tetes minyak kelapa dan 1 sendok kecil garam
|
Tabung 1 : Minyak
Kelapa berwarna kuning kecoklatan
Tabung
2 : Garam
NaCl
|
|
Menambahkan 2 ml air
ke dalam kedua tabung.
|
Tabung 1 : Minyak dan air tidak
menyatu atau dengan kata lain terpisah, bagian atas minyak dan bawah air. Minyak tidak
melarut di dalam air.
Tabung 2 : Garam
NaCl melarut dalam air.
|
Minyak Kelapa + H2O →
|
|
a.
Zat
manakah yang dapat larut dalam air ?
|
Garam NaCl
|
||
b.
Apakah
air merupakan pelarut organik atau
anorganik ?
|
Air merupakan pelarut Anorganik
|
||
c.
Apakah
air bersifat polar atau bukan polar ?
|
Air bersifat Polar
|
||
2.
|
Menambahkan 2 ml
aseton ke dalam kedua tabung.
|
Tabung 1 : Minyak kelapa
larut dalam aseton .
Tabung 2 : garam NaCl tidak
larut dala aseton .
|
Minyak Kelapa + H2O → larut
|
a.
Zat
manakah yang dapat larut dalam aseton ?
|
Minyak Kelapa
|
||
b.
Apakah
aseton merupakan pelarut organik atau anorganik ?
|
Aseton merupakan pelarut Organik
|
||
c.
Apakah
aseton bersifat polar atau bukan polar ?
|
Aseton bersifat Non polar
|
6.6
Kecepatan reaksi
No
|
Langkah
kerja
|
Data
pengamatan
|
Reaksi-reaksi
|
1.
|
Menuangkan 5 tetes FeSO4
0,1 M dalam sebuah tabung reaksi bersih.
|
FeSO4 berwarna kuning muda.
|
|
Menambahkan 2 tetes 2 tetes H2SO4
3 M dan KMnO4 0,1 M.
|
KMnO4 berwarna ungu dan H2SO4 tidak berwarna (bening).
|
||
Mengamati hasilnya.
|
FeSO4 direaksikan dengan H2SO4 (ungu) menghasilkan perubahan warna menjadi bening. Kemudian hasilnya direaksikan dengan KMnO4 warna ungu menghilang dengan cepat menjadi
bening.
|
FeSO4(aq) + KMnO4(aq)
FeSO4 (aq) + KSO4- (aq)
|
|
2.
|
Menunangkan 5 tetes alcohol 70 % yang tidak murni ke
dalam sebuah tabung reaksi bersih.
|
Alkohol tidak berwarna (bening).
|
|
Menambahkan 2 tetes
H2SO4 3 M 0,1 M KMnO4 .
Mengamati hasilnya.
|
Alkohol direaksikan dengan H2SO4 tidak mengalami perubahan warna. Kemudian hasilnya direaksikan dengan KMnO4 warna ungu menghilang secara perlahan enjadi
bening.
|
||
Memanaskan campuran
ini dalam penangas air jika tidak ada reaksi yang kelihatan.
|
Ketika dipanaskan hasilnya lebih bening dari
sebelumnya.
|
||
Membandingkan kecepatan dari kedua reaksi
tersebut.
|
Reaksi pertama (FeSO4)
lebih cepat terjadi dari pada
reaksi kedua (alcohol 70 %).
|
7
Analisis
Data
7.1
Komposisi
No
|
Senyawa
|
Mekanisme Reaksi
|
Jenis Senyawa
|
1
|
Lilin
(C25H52)
|
C25H52
(s) + O2 (g) → 25
CO2 (g) + 26 H2O (l)
|
Organik
|
2
|
Daun
(CnHn)
|
CnHn (s) + n O2
(g) → n
CO2 (g) + n H2O (l)
|
Organik
|
3
|
Plastik
(CnHn)
|
CnHn (s) + n
O2 (g) → n
CO2 (g) + n H2O (l)
|
Organik
|
4
|
Sepotong
Alumunium
|
Al (s) →
|
Anorganik
|
Penjelasan :
Senyawa Organik dibakar menghasilkan CO2 dan H2O
untuk reaksi pembakaran sempurna dan menghasilkan CO dan H2O untuk
reaksi pembakaran tidak sempurna. Sedangkan senyawa anorganik pada umumnya
tidak mengalami perubahan ketika dibakar.
7.2
Penguapan
No
|
Senyawa
|
Mekanisme Reaksi
|
Jenis Senyawa
|
1
|
Alkohol 70 % (R-OH)
|
Organik
|
|
2
|
Air
(H2O)
|
Anorganik
|
Penjelasan :
Penguapan
berhubungan dengan titik didih suatu zat. Adapun beberapa faktor yang
mempengaruhi titik didih yakni, berat molekul, adanya zat terlarut, dan ikatan
yang dibentuk antar molekul. Berat molekul berbanding lurus dengan kenaikan
titik didih suatu larutan, semakin besar berat molekul menandakan bahwa
banyaknya molekul dalam larutan tersebut, sehingga pergerakan molekul semakin
sulit dan membuat ikatan yang dibentuk
pun susah putus. Adanya zat terlarut masih berkaian dengan penambahan berat molekul. Jenis ikatan juga turut mempengaruhi titik
didih suatu larutan. Larutan yang molekul-molekulnya diikat ionik atau kovalen
yang bersifat kuat maka diperlukan waktu untuk memutuskannya.
7.3
Sifat bakar
No
|
Senyawa
|
Mekanisme Reaksi
|
Jenis Senyawa
|
1
|
Lilin (C25H52)
|
C25H52
(s) + O2 (g) → 25
CO2 (g) + 26 H2O (l)
|
Organik
|
2
|
Garam
Dapur (NaCl)
|
NaCl
(s) + O2(g) →
|
Anorganik
|
Penjelasan :
Senyawa Organik dibakar menghasilkan CO2 dan H2O
untuk reaksi pembakaran sempurna dan menghasilkan CO dan H2O untuk
reaksi pembakaran tidak sempurna. Sedangkan senyawa anorganik pada umumnya
tidak mengalami perubahan ketika dibakar. Pada umumnya senyawa organik mudah
terbakar sedangkan senyawa anorganik tidak mudah terbakar.
7.4
Daya hantar listrik
No
|
Senyawa
|
Mekanisme Reaksi
|
Jenis Senyawa
|
1
|
Alkohol
70 % (R-OH)
|
R-OH (l) → R-OH (aq)
|
Organik
|
2
|
Gula
(C12H22O11)
|
C12H22O11
(s) → C12H22O11
(aq)
|
Organik
|
3
|
NaOH
(aq)
|
NaOH (aq) → Na+ (aq) + OH-(aq)
|
Anorganik
|
4
|
NaCl
(aq)
|
NaCl (aq) → Na+
(aq) + Cl-(aq)
|
Anorganik
|
5
|
HCl
(aq)
|
HCl (aq) → H+ (aq) + Cl-(aq)
|
Anorganik
|
Penjelasan :
Senyawa organik umumnya
bersifat nonelektrolit dan dilarutkan di dalam air tidak terurai menjadi
ion-ionnya, tetapi masih dalam bentuk molekulnya, sedangkan senyawa anorganik dilarutkan
didalam air terurai menjadi ion-ionnya. Hal ini yang menjadi faktor senyawa
anorganik bersifat elektrolit.
7.5
Kelarutan
No
|
Pelarut
|
Zat Terlarut
|
Mekanisme Reaksi
|
1
|
Air
(anorganik)
|
Minyak
Kelapa
|
Minyak Kelapa + H2O →
|
Garam NaCl
|
|||
2
|
Aseton
(Organik)
|
Minyak
Kelapa
|
Minyak
Kelapa + H2O → larut
|
Garam NaCl
|
Penjelasan :
Senyawa organik larut dalam pelarut organik dan tidak
larut dalam pelarut anorganik. Senyawa organik dengan berat molekul yang kecil
dapat larut dalam senyawa anorganik karena hambatan efek steriknya kecil. Sedangkan Senyawa anorganik larut dalam
pelarut organik dan umumnya larut dalam pelarut anorganik.
7.6 Kecepatan Reaksi
Reaksi FeSO4
Persamaan
reaksi :
FeSO4(aq)
+ KMnO4(aq)
FeSO4 (aq) + KSO4- (aq)
Mekanisme reaksi :
Penjelasan
reaksi :
·
Pada
senyawa FeSO4 adanya perbedaan keelektronegatifan antara atom Fe dengan O, dimana O
lebih elektronegatif dari Fe
sehingga elektron ikatan antara atom Fe
dengan O putus ke atom O menyebabkan atom O menjadi negatif
(O-) dan atom Fe
menjadi positif (Fe+).
Begitu pula antara atom O dengan H pada
senyawa H2SO4, akibat adanya
perbedaan keelektonegatifan antara atom O dengan H dimana atom O lebih
elektronegatif dari H menyebabkan
elektron ikatan antara atom O dengan H putus
ke atom O sehingga
atom O menjadi negatif (O-) dan atom H menjadi positif (H+).
·
Pada
senyawa KMnO4 adanya perbedaan keelektronegatifan antara atom K dengan O, dimana O
lebih elektronegatif dari K
sehingga elektron ikatan antara atom K
dengan O putus ke atom O menyebabkan atom O menjadi negatif
(O-) dan atom K
menjadi positif (K+).
Begitu pula antara atom O dengan Mn,
akibat adanya perbedaan
keelektonegatifan antara atom O dengan Mn
dimana atom O lebih elektronegatif dari Mn menyebabkan elektron ikatan antara atom O
dengan Mn putus
ke atom O sehingga
atom O menjadi parsial negatif
(Oδ-) dan atom Mn
menjadi parsial positif (Mnδ+). Salah satu tangan O yang berikatan rangkap 2 (ikatan П)
putus menjadi ikatan sigma ( Æ© ) untuk berikatan dengan atom Fe.
·
Selanjutnya, atom Fe dari senyawa FeSO4 berinteraksi
dengan Mn dari senyawa KMnO4 membentuk senyawa FeMnO4 dan
H2SO4 terbentuk kembali dan atom K berinteraksi dengan O-
dari senyawa KSO4- .
Reaksi Alkohol
Persamaan Reaksi
:
R-OH
(aq) + KMnO4(aq)
R=O (aq) + KMnO3 (aq)
mekanisme reaksi
Penjelasan
mekanisme reaksi :
·
Pada
senyawa R-OH, adanya perbedaan keelektronegatifan antara atom R dengan O, dimana O
lebih elektronegatif dari R
sehingga elektron ikatan antara atom R
dengan O putus ke atom O menyebabkan atom O menjadi negatif
(O-) dan atom R
menjadi positif (R+).
Begitu pula antara atom O dengan H pada
senyawa H2SO4, akibat adanya
perbedaan keelektonegatifan antara atom O dengan H dimana atom O lebih
elektronegatif dari H menyebabkan
elektron ikatan antara atom O dengan H putus
ke atom O sehingga
atom O menjadi negatif (O-) dan atom H menjadi positif (H+).
·
Pada
senyawa KMnO4 adanya perbedaan keelektronegatifan antara atom K dengan O, dimana O
lebih elektronegatif dari K
sehingga elektron ikatan antara atom K
dengan O putus ke atom O menyebabkan atom O menjadi negatif
(O-) dan atom K
menjadi positif (Fe+).
Begitu pula antara atom O dengan Mn,
akibat adanya perbedaan
keelektonegatifan antara atom O dengan Mn
dimana atom O lebih elektronegatif dari Mn menyebabkan elektron ikatan antara atom O
dengan Mn putus
ke atom O sehingga
atom O menjadi negatif (O-) dan atom Mn menjadi positif (Mnδ+).
·
Selanjutnya, atom O dari senyawa KMnO4, akan
mengoksidasi alkohol menjadi keton aldehid atau karboksilat bergantung jenis
alkohol.
8.
Pembahasan
8.1
Komposisi
Pada uji
komposisi, senyawa yang digunakan yakni gula
(C12H22O11), daun (CnHn), aluminium
foil (Al) dan plastik (CnHn) untuk membedakan mana yang termasuk senyawa
organik dan mana yang termasuk senyawa anorganik. Telah dijelaskan sebelumnya bahwa senyawa
organik disusun oleh atom karbon dan terdapat ikatan C-H pada senyawanya dan
dapat mengandung unsur-unsur lain
seperti nitrogen (N), oksigen (O),
fosfor (P),
halogen (X)
dan belerang (S).
Ketika senyawa organik dipanaskan maka atom H yang merupakan golongan gas akan mengalami
penguapan dan yang tersisa adalah atom karbon. Sesuai dengan namanya karbon
identik dengan warna hitam. Maka bila senyawa organik dipanaskan terus menerus, maka yang diperoleh yakni
serbuk hitam atau kehitaman yang merupakan sifat karbon. Sedangkan pada senyawa
anorganik, tidak mengalami perubahan apapun karena pada umumnya tidak mengandung
atom karbon.
Pada hasil percobaan,
menunjukkan
lilin, daun dan plastik ketika dibakar, akan berubah wujud yakni gula putih
menjadi kecokelatan,
daun menjadi arang dan plastik pun mengkerut dan
secara perlahan meleleh. Sedangkan pada aluminium foil tidak terjadi perubahan
apapun
saat dibakar. Maka dapat dikelompokkan bahwa yang termasuk
senyawa organik adalah gula, daun dan plastik sedangkan yang merupakan senyawa
anorganik yakni aluminium foil.
8.2 8.2. Penguapan
Pada uji penguapan, hasil yang diperoleh yakni, ketika
air dan alkohol masing-masing dipanaskan
secara bersamaan dalam
jumlah yang sama yakni 1 tetes, ternyata yang paling
cepat menguap adalah Alkohol dengan waktu yang dibutuhkan untuk habis
menguap adalah 21 detik,
sedangkan air membutuhkan
waktu 40 detik untuk habis menguap. Seperti yang diketahui beberapa faktor yang
mempengaruhi titik didih yakni, berat molekul, adanya zat terlarut, dan ikatan
yang dibentuk antar molekul. Berat molekul berbanding lurus dengan kenaikan
titik didih suatu larutan, semakin besar berat molekul menandakan bahwa
banyaknya molekul dalam larutan tersebut, sehingga pergerakan molekul semakin
sulit
dan membuat ikatan yang dibentuk pun susah putus. Adanya
zat terlarut masih berkaitan dengan penambahan berat molekul. Jenis ikatan juga turut mempengaruhi titik
didih suatu larutan. Larutan yang molekul-molekulnya diikat ionik atau kovalen
yang bersifat kuat maka diperlukan waktu untuk memutuskannya.
Alkohol walaupun memiliki berat molekul yang lebih tinggi
daripada air, tetapi lebih cepat mencapai titik didihnya dibandingkan dengan
air. Hal ini dipengaruhi oleh faktor ikatan yang dibentuk oleh molekul air,
dimana antara atom O pada suatu molekul akan mengikat atom H membentuk ikatan hidrogen pada molekul lainnya. Berdasarkan teori, ikatan hidrogen ini merupakan ikatan kovalen polar yang tingkat
kekuatan ikatannya berada
di
bawah ikatan ionik dan ikatan ini hanya dibentuk oleh senyawa
organik. Untuk memutuskan ikatan hidrogen sangat susah sebab kecendrungan atom
H tertarik ke atom C, yang lebih bersifat elektronegatif dari pada atom H,
sehingga ikatan ini susah untuk dilepaskan. Sedangkan pada Alkohol juga terjadi
ikatan hidrogen pada molekulnya, mengingat Alkohol memiliki molekul yang hampir
sama dengan air, tetapi adanya gugus alkil pada sisi lain atom O yang membuat
ikatan yang dibentuk tidak sekuat ikatan yang dibentuk oleh air.
8.3
Sifat Bakar
Berdasarkan teori, senyawa organik lebih mudah terbakar dan memberikan hasil
akhir berupa CO2 dan H2O
untuk pembakaran sempurna dan memberikan hasil akhir CO dan H2O
untuk pembakaran tidak sempurna, sementara senyawa
anorganik sukar terbakar karena pada sturuktur senyawa anorganik pada umumnya
tidak tersusun oleh atom karbon kecuali karbida, karbonat, dan oksida
karbon.
Dilihat dari hasil pengamatan
dan analisis
data yang telah ada menunjukkan bahwa, pada awalnya lilin dalam bentuk padat
berwarna putih, saat dipanaskan dalam cawan porselin, lilin akan menyala dan meleleh sebab lilin tergolong
dalam senyawa organik. Sedangkan garam pada awalnya dalam bentuk butiran-butiran berwarna putih saat dipanaskan garam tidak
meleleh dan tidak terjadi arang, sebab garam tergolong dalam senyawa anorganik,
sehingga mempunyai perbandingan hasil yang berbeda.
8.4
Daya hantar listrik
Seperti kita ketahui bersama,
senyawa organik pada umumnya bersifat non elektrolit dan senyawa anorganik merupakan senyawa
elektrolit. Senyawa elektrolit merupakan senyawa
yang mampu menghantarkan arus listrik karena terurai menjadi
ion-ionnya dalam air. Larutan NaCl, HCl, dan NaOH
dapat terurai menjadi ion-ionnya dalam air,
sehingga ketiga senyawa ini mampu menghantarkan arus listrik. Karena mampu
menghantarkan arus listrik atau daya hantar listriknya besar, maka digolongkan
ke dalam senyawa anorganik. Sedangkan gula (C12H22O11) dan alkohol (R-OH)
tidak dapat terurai menjadi ion-ionnya
dalam air, sehingga gula dan alkohol tidak mampu menghantarkan arus listrik dan
digolongkan ke dalam senyawa organik.
8.5
Kelarutan
Pada dasarnya kelarutan merupakan
kemampuan suatu pelarut untuk melarutkan sejumlah zat pelarut. Kelarutan suatu
senyawa dalam pelarut tertentu ditentukan oleh sifat senyawa tersebut dan sifat
pelarutnya apakah polar atau non polar. Prinsipnya menggunakan kaidah “Like
Disolve like” bahwa senyawa polar dapat larut dalam senyawa polar juga,
sedangkan senyawa nonpolar dapat larut dalam senyawa non polar. Pada percobaan
ini digunakan beberapa senyawa organik yang memiliki kepolaran yang
berbeda-beda.
Pada uji kelarutan yang
pertama, direaksikan antara air dengan minyak dan air dengan NaCl. Seperti pada data pengamatan bahwa ketika dicampurkan, minyak tidak melarut dalam air, hal ini menunjukkan
bahwa minyak dan air memiliki kepolaran yang berbeda di
mana, air merupakan
senyawa polar dan minyak merupakan senyawa
non polar. Selanjutnya ketika air dicampurkan dengan
NaCl, NaCl melarut dalam air, hal ini membuktikan bahwa kedua senyawa ini
memiliki sifat kepolaran yang sama yakni sama-sama polar.
NaCl merupakan senyawa anorganik. Karena air mampu melarutkan NaCl yang
merupakan senyawa anorganik, maka air termasuk pelarut anorganik.
Pada tahap kedua, direaksikan antara
aseton dengan minyak kelapa
dan aseton dengan NaCl. Ketika aseton
dicampurkan dengan minyak, terjadi proses pelarutan, hal ini menunjukkan bahwa
keduanya memiliki kepolaran yang sama, yakni sama-sama non-polar. Sedangkan ketika
aseton dicampurkan ke dalam NaCl, NaCl tidak melarut dalam aseton. Hal ini menunjukkan bahwa NaCl dan aseton memiliki kepolaran yang berbeda, di mana
NaCl merupakan
senyawa polar dan aseton merupakan senyawa non-polar. Karena aseton mampu
melarutkan minyak kelapa
yang merupakan senyawa organik, maka aseton termasuk pelarut organik.
Jadi, dari
senyawa-senyawa yang digunakan dalam percobaan ini yang merupakan
senyawa polar yakni air dan NaCl sedangkan yang bersifat non polar yakni minyak
dan aseton. Air termasuk pelarut anorganik dan yang
termasuk pelarut organik adalah aseton.
8.6
Kecepatan reaksi
Teori menyatakan bahwa reaksi pada
senyawa organik terjadi secara lambat dan reaksi pada senyawa anorganik
berlangsung cepat. Reaksi pada senyawa anorganik berlangsung secara cepat
karena tersusun oleh unsur-unsur yang sangat elektronegatif, sehingga memilki
kemampuan yang besar untuk menarik
elektron dari unsur lain. FeSO4
merupakan senyawa anorganik sehingga
senyawa ini dapat bereaksi dengan KMnO4
secara cepat. Sedangkan alkohol
merupakan senyawa organik yang tersusun atas unsur-unsur yang kurang elektronegatif,
sehingga kemampuan unutk menarik elektron dari unsur lainnya kecil yang
meyebabkan reaksinya berjalan lambat.
Berdasarkan hasil percobaan, FeSO4 direaksikan dengan H2SO4 (ungu) menghasilkan warna bening. Kemudian hasilnya direaksikan dengan KMnO4 warna ungu menghilang dengan cepat menjadi
bening.
Kemudian Alkohol direaksikan dengan H2SO4 tidak mengalami perubahan warna. Kemudian hasilnya direaksikan dengan KMnO4 warna ungu menghilang secara perlahan menjadi
bening. Reaksi FeSO4 lebih cepat dari pada reaksi alkohol.
9.
Simpulan
Berdasarkan
percobaan ini, maka dapat disimpulkan bahwa perbedaan senyawa organik dan
anorganik adalah :
1. Senyawa
organik
Semua senyawa organik mengandung unsur karbon atau lebih sederhananya memiliki atom karbon sebagai
salah satu unsur yang menyusun senyawa tersebut kecuali karbida, karbonat dan
oksida karbon, di udara senyawa organik lebih mudah
menguap, senyawa organik lebih mudah
terbakar
dan memberikan hasil akhir CO2 dan H2O
untuk reaksi pembakaran sempurna dan menghasilkan CO dan H2O untuk
reaksi pembakaran tidak sempurna,, umumnya bersifat non-elektrolit
sehingga sukar menghantarkan arus listrik, hanya
dapat larut dalam pelarut organik yang bersifat
non-polar, dan reaksinya berlangsung lambat
2. Senyawa
anorganik
Tidak
semua senyawa anorganik memiliki unsur karbon dalam hal ini senyawa yang terbentuk dari unsur logam, non logam dan
sebagainya, di udara senyawa anorganik lebih sukar
menguap, tidak mudah terbakar,
umumnya bersifat elektrolit (konduktor listrik dalam larutannya),
dapat larut dalam pelarut anorganik yang bersifat polar,
dan reaksi berlangsung cepat.
Daftar Pustaka
Vogel. 1990. Analisis Anorganik Kualitatif Makro dan
Semimikro. Jakarta: Kalman Media
Pusaka
Fessenden
& Fessenden. 1999. Kimia Organik
Edisi Ketiga. Jakarta : Erlangga
Sumber lain :
http://www.ut.ac.id/html/suplemen/pipa4335/sej-organik.html
#sumber laporan : Laboran Fkip Kimia Unwira
#sumber laporan : Laboran Fkip Kimia Unwira